Membaur di Kampung

Petualanganku di dunia birahi sudah malang melintang. Dimana pun lokasi syur di Jakarta sudah pernah ku datangi. Ada satu tempat favoritku di daerah Jakarta Timur. Tempat itu memang untuk kelas bawah, tapi aku menemukan keunikan tersendiri di situ. Ceweknya banyak yang muda-muda dan masih polos seperti orang desa. Dandanannya pun masih seperti di kampungnya.
Aku akhirnya punya langganan, namanya Katem, tapi lalu kuganti namanya jadi Ami. Jadi aku panggil dia Ami. Dia akhirnya terbiasa. Suatu hari dia bercerita ingin pulang kampung. Aku menawarkan diri mengantarnya sampai ke rumahnya. Dia dengan senangnya menyambut tawaranku. Kami akhirnya janjian untuk berangkat bersama.
Kami janjian ketemu di halte mikrolet di dekat pasar. Dari situ kami menuju Pulo Gadung untuk mengambil bus jurusan Cirebon.
Baru sekali itu aku naik bus dari Pulo Gadung dan bersama cewek. Sorry aku lupa menggambarkan bagaimana profil Mia. Usianya sekitar 15 tahun, mukanya manis, kulitnya agak gelap tingginya sekitar 155 cm. Rambut lurus sebahu. Bicara kurang lancar berbahasa Indonesia, dia sekolah sampai kelas 4 SD.
Sekitar 3 jam setengah akhirnya kami sampai di pemberhentian sebelum kota Indramayu. Sebut saja KS, kami menyeberang jalan, dan di situ sudah ada puluhan ojek. Mia menyebut nama kampungnya dan kami menyewa 2 ojek dengan ongkos masing-masing 20 ribu. Rupanya tempatnya jauh juga masuk kedalam.
Di kampung-kampung Indramayu dan Karawang, cukup banyak orang tua yang menganjurkan anaknya jadi pelacur. Jadi mereka sama sekali tidak keberatan ketika anaknya punya tamu. Bagi ortunya tamu itu adalah rejeki dan ini masuk area bisnis jadinya. “anak nginep disini aja, pulang ke jakarta besoklah, ngapain buru-buru pulang,” kata bapaknya. Jadi sebelum gw memohon sudah ditawari so ya why not
kan. Lantas gw keluarin Rp 100k kasi langsung sama emaknya. ” Mak ini buat beli makanan, nanti malam saya makan disini.”
Wah itu emak langsung buru-buru pergi, pulangnya nenteng ayam hidup, lalu bapaknya suruh motong tuh ayam. Malamnya hidangannya adalah ayam goreng, sambel dan lauk berkuahnya 2 bungkus indomi direbus dengan banyak air. Yang makan berenam. Adik si cewek ada 2 soalnya. Gw gak bisa makan banyak, tapi dipaksa juga. Gw kurang selera, karena ayamnya masih keras dan masih bau amisnya ayam. Gw telen-telenin aja, abis kepaksa. Mau makan indomienya. Biasanya dua bungkus gw makan sendiri, ini dua bungkus dimakan berenam. Wah gw jadi gak enak body.
Abis makan gw keluarin 50 k kasi ke bapaknya untuk beli rokok dan 50k lagi gw kasi ke dia juga dengan pesen untuk keamanan.
Wekkk rumah tuh bapak akhirnya dijagain 2 hansip kampung semalaman. Buset deh, jadi raja minyak gw di kampung ini. Abis makan bukan terus tiarap, ngobrol dulu ama bokapnya ke utara-selatan. Yah bisa-bisa gw menerka minat obrolan dia. Begitu gw tau dia tertarik ama pertanian. Gw keluarin jurus-jurus dewa mabok gw untuk mengimbangi percakapannya. Bukan mau sombong sih diajak ngomong soal apa aja dari mulai menanam padi sampai nuklir korea utara gw bisa njabani. Kalo soal olah raga gw nyerah deh, gak hobi. Namanya ilmu dewa mabuk, si bapak jadi kalah ilmu ama gw, wakakakak. Gw inget hari itu dia nanya-nanya nanem apa yang hasilnya lumayan. Gw bilang semangka tanpa biji bagus tuh pasarnya. Dia bingung, semangka tanpa biji yang
ditanam apanya. Gw bilang ya biji, ada tuh bibitnya di jual kalengan cuma harganya rada mahal. “mau dong” kata bapaknya. Yah nanti deh kalo sy kemari lagi.
Ngobrol sampai jam 10 an sambil minum kopi dan makan kacang garuda. Akhirnya tuh bapak nyadar juga dan nyuruh gw istirahat. ” Kamarnya udah disiapi, silahkan nak istirahat dulu.”. Jam 10 malam di kampung, sunyinya kayak orang tuli, mana gelap lagi. Tapi gw PD aja meski rada was-was juga, Gimana gak PD rumah dijagai 2 hansip. Kayaknya hansip kelurahan.
Was-wasnya kalau ada apa-apa gw lari kemana. Gw kan gak bawa kendaraan. Oh ya gw lupa. Kalo masuk kampung pedalaman gitu dan mau nginep jangan bawa mobil,
mencolok bo. Orang jadi banyak perhatiin kita. Kalo kita datang naik ojek, kita jadi membaur dan gak kelihatan mentang-mentang.
Si bapak nunjuki kamar tidur untuk gw, dan anak perempuannya udah tiduran di situ. Kamarnya cuma diterangi lampu minyak dan yang istimewa tempat tidurnya pake kelambu. buset dah seumur-umur gw baru pernah kali itu tidur pake kelambu.
Tadinya pengen malu, tapi karena bapaknya nganjurin gw tidur ama anaknya, gw jadi bingung pengen malu ama siapa wakakakakak.
Besok paginya gw rada kesiangan bangunnya, malemnya kebanyakan tiarap kali ya. eh si cewek walau udah bangun tapi dia belum keluar dari tempat tidur.Mungkin nunggu sampai gw juga bangun.Wah setia banget.
Di luar udah disiapi kopi dan nasi goreng. Wuissh raja minyak diservice abis.
Gw salut ama diri gw sendiri, sebab petualangan itu gw jalani sendiri tanpa kawan. nekat abis. Gw akhirnya nginep lagi semalem, mengingat dana dikantong masih mencukupi dan gw rasa aman-aman aja. Seharian di kampung gw ditemani tetangganya (laki-laki) nyewa motor muter-muter di kampung. Eh dia malah nunjuki potensi cewek di desanya. Jadi gw dikenali ama banyak cewe. Buset banget, ternyata banyak yang ok. Gilanya dia nawari perawan. Bukan satu, kalo gw nggak salah inget ada 3 semuanya dikenali ke gw.
Tetangga sebelah si Mia ini rupanya juga lagi pulang kampung. Gilanya dia kelihatan lebih muda, mungkin usianya masih 13 – 14 tahun . Aku diperkenalkan dan dia mengaku kerja (melacur) di daerah Cilincing. Tempat yang dia sebutkan itu belum pernah aku datangi.
Setelah nginap semalam aku kemudian pamit kepada orang tua si Mia. Diantar oleh tetangganya aku berangkat dari rumah Mia. Heri begitu nama tetangga Mia yang menjadi penunjuk jalan.
****
Aku bukan sungguh-sungguh pulang tapi pindah nginap di kampung yang letaknya jauh lebih ke pelosok. Tujuannya adalah rumah Nani. Anaknya manis agak tinggi sekitar 160 usianya juga masih amat belia sekitar 15 tahun. Dia termasuk stok baru, karena belum pernah dikaryakan. Kata Heri Nani baru cerai. Padahal mereka belum genap 3 bulan kawin. Seperti diceritakan Heri, orang-orang di kampung itu banyak yang kawin singkat hanya untuk mengejar status janda. Dengan status janda, dia bisa punya KTP dan bisa kerja ke kota.
Rumah Nani tidak begitu besar, berdinding separuh tembok separuh bambu anyaman (gedek).. Kami disambut seorang wanita usianya sekitar 32 tahun, dia adalah ibunya Nani.
“Mari mas masuk,” katanya mempersilahkan kami.
Aku memilih duduk di bale-bale (amben) bambu di teras rumahnya. Sementara itu Heri masuk bersama ibunya Nani, sepertinya ada yang mereka rembukkan.
“Dari mana mas,” tanya ibu si Nani.
“Jakarta,” jawabku singkat.
Maknya si Nani ini kelihatan akrab sekali, sedangkan aku masih rada kikuk. Aku merasa malu karena niatku akan menginap di rumah itu, kayaknya vulgar banget. Tapi Bu Karta begitu dia mengenalkan namanyam dia pintar sekali mencairkan suasana, dan dia sudah tau betul niatku .
“Mas tunggu sebentar ya, si Nani lagi mandi, katanya.
Kami mengobrol macam-macam sampai aku tahu bahwa Bu Karta ini juga janda dengan 2 anak. Anak yang pertama laki-laki sekarang kerja di Jakarta.. Jadi mereka hanya tinggal berdua.
“Masnya jadikan menginap di sini,” tanya Bu Karta.
“ Kalau ibu boleh, ya saya mau,” kataku.
“Ya boleh lah mas, hotel dari sini jauh, tapi disini rumah kampung, nggak ada listrik, rumahnya juga jelek, nggak kayak rumah di Jakarta, gedongan semua,” katanya merendah.
Heri memberi kode agar aku ikuti dia. Heri membrief aku , bahwa semuanya oke dan ada juga uang keamanan. Dia mau pamit, dan aku minta dia datang lagi besok jam 10 pagi.
Heri kemudian pamit kepada mak nya Nani dan segera ngacir.
Perutku sudah rada kroncongan karena sekarang udah jam 1 siang. Kutarik 5 lembar uang 20 ribuan dan kuserahkan ke Bu Karta. “ Ini bu untuk beli makanan, siang ini ibu beli indomi bangsa 5 bungkus, minyak goreng dan kalau ada sedikit tepung sagu (kanji), lainnya beliin tempe dan cabe rawit ijo juga bawang putih.
Ibunya masuk ke dalam rumah sebentar dan keluar lagi membawa secangkir kopi. Tak lama kemudian datang belanjaan. Rupanya Bu karta minta tetangganya untuk belanja , pantesan dia gak beranjak dari tadi.
“Mas tepung sagunya mau dibuat apa ya,” katanya.
“Mau buat mi bu,” kata ku.
“ Ah jangan panggil bu ah, panggil mbak aja, kayaknya kok jadi tua banget ,” katanya sambil matanya genit..
“Boleh saya masak mi nya di dapur bu,”
“Eh masnya pinter masa yaa, tapi dapurnya jelek dan kotor” katanya lalu membibimbingku ke bagian belakang rumahnya.
Aku berpapasan dengan Nani yang berbalut handuk masuk dari belakang rumah. Dia malu-malu menundukkan muka , langsung masuk kamar.
Aku meminta 3 bungkus indomi untuk digoreng .
“Sini mas kita saja yang goreng,” kata bu karta. Orang di Indramayu ini menyebut kita untuk aku.
Setelah mi di goreng aku minta dia merebus air dan pinjem mangkuk untuk mencampur air dengan tepung sagu . “ Segini cukup gak mas airnya.
“Kurangi dikit mbak.”
Setelah air menggelegak aku masukkan air campuran dengan kanji dan bumbu mi instannya. Setelah mendidih dan kuah agak mengental kuminta dipindahkan ke tempat lain. Sekarang makanannya sudah siap.
Mas kita cuma punya nasi ama ikan asin. Lalu kami pun mengelilingi meja makan yang posisinya ditempelkan ke tembok dengan 4 kursi. Aku duduk di tengah, disamping ku Nani, dan di kiriku Bu karta.
“Wah enak mi-nya mas, masnya pinter masak juga ya,”
” Ini namanya ifumi, tapi sebenarnya bumbunya lebih lengkap dari ini ada sayur, ada bakso, baso ikan, dan udang segala, tapi karena adanya ini ya begini aja lah,” kata ku . “Enak ya mak, kita jadi pengin nambah mi nya lagi,” kata Nani yang makan sambil duduk kakinya diangkat satu (metingkrang).
“Mas itu ada tempe mau diapain, biar kita yang ngerjain,” kata mak Karta.
“Digoreng aja biasa mbak,” kata ku.
Dia lalu menghilang ke belakang tinggal aku dan Nani di ruang yang rada gelap. Kami ngobrol dan aku mengorek banyak informasi. Katanya dia sudah ditawari kerja ke Jakarta, Tapi maknya belum ngasih karena sendirian di rumah.
Gak terasa sudah jam 4 sore, cuaca mulai teduh.
“ E mas-e mau mandi kan, ayu bareng kita ke belakang saya unjukin tempatnya.” kata mak Karta.
Aku segera mengorek isi tas ku mengambil sabun cair, handuk dan celana pendek serta kaus oblong, juga sikat gigi.
Maknya Nani juga kelihatannya bawa perlengkapan mandi nani juga . mereka masing masing menjinjing ember kecil. Mereka mau mandi juga nampaknya.
Kami sampai di halaman belakang yang jaraknya sekitar 10 m dari rumah ditengh kebun singkong. Di situ hanya ada ponpa tangan dan ember yang lebar. Tidak ada dinding, sehingga sama sekali terbuka. Aku melihat ke sekeliling, tidak ada bangunan apa pun . Ternyata kamar mandinya ya di pompa itu. Di situ hanya ada dua tonggak yang dihubungkan dengan kawat. Maksudnya mungkin untuk jemuran. Mereka berdua lalu melampirkan handuk, dan baju-baju mereka.
Kulihat mereka gak bawa sarung, aku jadi mikir nih mereka mandinya gimana. Aku diam aja sambil pura-pura terlihat biasa sambil menyampirkan baju-bajuku dan membuka semua pakaianku kecuali celanda dalam yang memang bentuknya boxer.
Si mak giat sekali memompa. Aku segera mengambil alih memompa . Astaga mereka berdua membuka semua bajunya sampai telanjang bulat di depan ku lalu jongkok di pinggir ember. Dengan gayung bekas kaleng susu mereka membasahi semua badannya lalu menyabuni tubuhnya Aku terus memompa sambil pura-pura cuek, padahal dedeku mulai mengembang.
“ Udah itu mas air juga udah penuh masnya juga mandi sini, kata si mak,”
Aku tidak mau kalah dengan aksi mereka, Aku berbalik dan segera melepaskan celana dalam, dan kugantungkan dengan bajuku. Kututup burungku lalu aku jongkok berhadapan dengan mereka. Pembatas kami hanya ember.
“Wah masnya gak biasa mandi di kampung jadi masih malu ya mas,” kata Mak karta.
Aku hanya nyengir, “Ah nggak mbak, Cuma burungku susah diatur,” kataku berkilah.
Mas nya gak biasa sih jadi burungnya kaget kali, “ kata bu Karta.
Ibu nya si Nani ini tampak makin cantik ketika semua rambutnya dibasahi. Toketnya cukup montok mungkin ukuran 38 , perutnya agak gendut sedikit, tapi masih bisa digolongkan ramping untuk seumuran dia, pantanya buset gede banget, begitu juga pahanya. Badannya putih mulus pula.
Nani badan gadis remaja Teteknya masih mancung menantang dengan putting kecil yang belum berkembang, jembutnya masih jarang sekali, berbeda sama jembut ibunya.
Karena mereka cuek, aku juga cuek aja, meski pun barangku ngacung terus. Ah normal aja pikir ku, laki-laki dekat perempuan telanjang pula pastilah on. Gitu dong mas jangan malu-malu, Komentar ibunya sambil dia mengambil semacam sabut untuk menggosokkan badannya. Aku diberinya satu sabut yang kuperhatikan bentukunya bulat panjang seperti gambas atau oyong. Aku tenang saja menggosok badan ku sambil berdiri dan mereka berdua juga akhirnya berdiri sih. Mas sini aku gosok punggungnya dan mas gosok punggunya Nani. Kami pun lalu berbaris saling menggosok. Mulanya aku menggosok punggung Nani, Tapi lama-lama tangan ku gak tertahan meremas pula tetek si Nani. Tapi dia diem aja. Si Ibu masih terus menggosok, tapi tidak hanya punggung juga sampai ke kaki-kaki pula Eh lama-lama naik sampai ke dekat dede ku. Di bagian vital itu disabuninya pula tapi gak pake sabut. Aku jadi menggelinjang gak karuan. Eh dia malah lama sekali berputar-putar menyabuni dedeku. Aku jadi gelap mata kutarik si Nani lalu kucium. Nani membalas. Aku udah kehilangan akal, sampai gak terasa kalau dedeku dibasuh air. Tapi aduh ternyata burungku dilomot sama si ibu. Buset kok jadi orgi di kebun singkong gini.
Aku tidak bertahan lama segera muncrat di dalam mulut si ibu. Dia buang air mani ku . Aku segera menempelkan barang ku ke pantat si nani yang kupeluk dari belakang sementera tanganku sudah dari tadi mengorek-korek itil si Nani sampai dia muncak juga nampaknya. Aku kemudian berbalik ke si emak dan kurangkul dia lalu kucium mulutnya. Dia membalas dengan ganas. Tangan ku tak hanya meremas teteknya yang super toge, tapi juga mulai mengelus-elus mekinya.. Aku mau balas dendam. Perlahan-lahan kujilati tubuhnya kebawah sampai akhirnya aku berlutut dan di depanku terpampang memek berjembut lebat. Lidahky mencari sendiri belahan memek sambil tanganku menyibak hutan rimba. Memeknya tidak ada baunya, malah cenderung bau sabun. Mulutku kubekap ke memeknya dan kaki kirinya kupanggul dipundakku.Si emak berpegangan ke tiang sambil mendesis-desis. Gak sampai 2 menit dia sudah muncak dan sambil mengerang. Barangku jadi keras lagi aku segera berdiri dan kusuruh si emak membungkuk dengan sekali tusuk masuklah si dede ke meki emaknya dari belakang .
Aku sungguh terpesona dengan pemandangan pantat yang demikian besar membulat aku tabrak-tabakkan badan ku ke pantat si emak dan si emak mengimbanginya dengan mendesis-desis. Nani yang jongkok sambil mengguyur badannya memperhatikan kelakuan kami. Kupanggil dia agar mendekat. Nani menurut lalu aku sambil memompa emaknya aku gerayangi badannya. Sekitar 5 menit si emak sudah bilang “ udah-udahmas ampun mas saya lemes banget,” katanya setelah dia meregang puncak orgasme.
Sementara aku masih nanggung.Kini nani ku minta nungging dan segera dedeku kuarahkan ke memeknya dari belakang . Beda banget memek sianak dengan si Mak, Si Emak tadi mudah sekali mencoblosnya. Kalau sianak pake rada dituntun baru bisa pelan-pelan masuk. Aku kembali memompa dan karena ketatnya liang nani aku tidak mampu bertahan lama baru sekitar 5 menit aku sudah merasa akan meledakkan lahar. Kucabut dari meki si Nani lalu ku tembakkan ke udara bebas.
Si emak lagi di duduk dilantai lemes. “Si emas jago banget maennya,” kata emak.
Kami lalu menuntaskan mandi dan segera kemlai ke rumah. Kami jadi makin akrab dan aku segera dibawanya masuk ke ruang tidur. Kamar tidur itu adalah satu-satunya kamar tidur di rumah itu. Di situ terbentang 2 kasur yang didempetkan namun dengan dua sprei yang berbeda corak. Aku disuruhnya istirahat tiduran. Dan mereka berdua juga ikut tidur mengapit aku.
Si emak ini agresif sekali. Kalau bicara sebentar-sebentar nyium pipiku. “Aku gemes sama si emas abis cakep sih,” katanya.
Karena matahari masih mencorong dan kami di dalam kamar yang tidak berventilasi, dengan birahi tinggi maka badanku cepat sekali berkuah alias berkeringat. “Panas banget boleh gak kita buka baju, “ kata ku menyebut diriku dengan kita menyesuaikan bahasa mereka.
Tanpa menunggu jawaban dari mereka aku segera bangkit dan melepas tidak hanya baju tetapi semua busana ku sampai aku telanjang bulat. “ Kok dibuka semuanya,” kata si Nani.
“Abis panas, lagian kan tadi udah pada liat di sumur, jadi malunya udah ilang,” kata ku.
“Idih,” kata Nani.
Aku kembali mengambil posisi di antara mereka dan diam saja tidak bereaksi. Si emak langsung meremas tol ku sambil menciumi pipiku. Kelihatannya dia menginstruksikan anaknya untuk juga menciumiku dari sisi lain. Nani gerakannya masih canggung, tapi aku diam saja. Emaknya bangkit sambil duduk mengintrusikan anaknya untuk menciumi seluruh badan ku.
Aku protes agar mereka juga telanjang sehingga kita bertiga sama posisinya. Emaknya lalu berdiri membuka semua bajunya dan dia juga menyuruh anaknya untuk membuka semua bajunya juga..
Si emak kembali mengajari anaknya bagaimana caranya menyenangkan laki-laki, sampai akhirnya anaknya disuruh ngemut tool-ku. “ Jangan sampai kena giginya, nanti masnya ngrasa sakit. Mulanya si Nani agak ragu. Tapi kemudian ibunya memberi contoh dengan cara mempraktekkannya langsung lengkap menjilat kedua kantong zakarku sampai ke lubang matahari
Aku yang menjadi bahan praktikum, mengelinjang-gelinjang nikmat. Nani tampaknya berbakat, karena dalam waktu relatif singkat dia sudah menguasi ilmu oral-mengoral. Setelah sekitar 10 menit kutarik tubuhnya ke atas lalu kusuruh dia duduk di dadaku kusuruh maju sedikit sampai mekinya tepat jangkauan lidahku. Kukuak memeknya yang masih gundul dan baru berambut sedikit. Benjolan kecil nampak menonjol di ujung atas bibir dalamnya. Itu tanda dia sudah cukup terangsang, Segera lidahku menggapai clitoris sambil kedua tanganku menahan pinggulnya yang kalau kulepas gerakannya terlalu liar. Nani mendesis sambil mengerang.
Dia kelihatannya lebih rame dari pada ibunya. Ibunya yang dari tadi duduk saja memperhatikan permainan kami tiba-tiba bangkit. Aku tidak bisa jelas melihatnya, tapi aku merasa dia duduk mengangkangi badanku sambil menuntun tool ku yang lagi siaga ke dalam mekinya. Blebesss, masuk semua barang ku kedalam mekinya dan dia segera memaju mundurkan pinggulnya. . Toolku seperti diulek atau dikacau (stir). Kosentrasiku jadi terbelah. Tapi aku berusaha memuatkan serangan lidahku secara konstan di ujung clitoris si Nani. Nani makin hot terlihat dari gerakannya yang melawan tahanan tanganku.
Aku semakin keras menahan pinggul nani agar dia tidak menggelinjang terlalu liar. Akhirnya Nani sampai dan dia menjerit. Aku lalu membenamkan mulutku di meki nani. Ibunya nampaknya terpengaruh dengan teriakan Nani sehingga dia pun lalu mempercepat gerakkannya dan semakin liar sampai akhirnya dia juga berhenti dengan liang vaginanya berkedut. Dia memeluk anaknya .
Keduanya aku minta tidur telentang untuk istirahat. Aku mengambil alih dengan mencolokkan jari tengah kanan ke Nani dan jari tengah kiri ke emaknya. Aku meraba titik G spot mereka. Keduanya akhirnya teraba. Lalu ku usap halus. Mereka mulai bereaksi dan pinggulnya di gerakkan gak beraturan, kadang maju mundur kadang kiri-kanan, sampai tiba-tiba Nani teriak sekencang-kencangnya gak sampai semenit Emaknya juga ikut teriak panjang..
Mereka berdua seperti orang tak berdaya lemas dan pasrah. Aku segera mengambil alih untuk memuaskan diriku. Pertama kupilih meki emaknya, kugenjot sampai sekitar 10 menit, kemudian aku pindah ke nani dan kugenjot terus sampai akhirnya aku memuntahkan lahar putih jauh di dalam meki si Nany.
Kami tertidur bertiga dalam keadaan bugil..
Aku tidak sadar berapa lama tertidur sampai kudengar suara samar-samar emak si nani bangun .dia mencari lampu untuk dihidupkan, karena seisi rumah itu gelap gulita. Lampu yang dinyalakan adalah lampu minyak. Aku pun lalu bangun dan akhirnya kami bertiga dengan obor menuju ke sumur untuk membersihkan diri.
Aku merasa kayak punya dua istri dua di kampung ini. Tapi uniknya kedua istri itu anak dan ibu. Keduanya berlaku manja sekali dan sering menggelendot..
“Mas tempenya udah digoreng, mau dimasak apaan” kata si emak.
:”Diulek pake 1 siung besar bawang putih dan cabe rawit ijo, tapi cabe dan bawangnya diulek dulu sama garam, jangan terlalu alus baru tempenya di teken-teken ke sambelnya,” kata ku.
Dengan lauk tempe itu kami bertiga makan malam dengan lahapnya. “Enak banget ya padahal Cuma gitu aja bikinnya, “ kata si emak.
Selesai makan kami duduk di beranda rumahnya sambil aku dibuatkan kopi dan singkong rebus. Kami ngobrol sampai sjam 11 malam. Lalu kembali masuk rumah dan menutup pintu. Kami bertiga kembali berbaring dan aku selalu ditempatkan diantara mereka berdua.
Kami malam itu bertempur lagi sampai jam 2. Sampai akhirnya bangun agak kesiangan . Jam 7 baru kami terjaga dari tidur nyenak. Lalu kami buru-buru berkemas dan kembali ke sumur untuk membersihkan diri. Di sumur tidak terjadi insiden.
Jam 10 si Heri datang untuk menjemput aku. Si emak minta agar aku memperpanjang waktu dan minta Heri datang besok lagi.
Share:

Memori Indah

Aku senyum sendiri. Kenangan waktu aku sedang menungu keputusan SPM beberapa tahun lalu terbayang semula di benakku. Waktu itu aku tinggal di sebuah taman perumahan. Aku tinggal di rumah teres dan berjiran dengan Mak Long Kiah. Mak Long Kiah mempunyai seorang anak lelaki yang berusia setahun lebih tua dariku. Aku biasa memanggilnya Abang Zaki. Sejak kecil aku, Abang Zaki dan dua orang kakaknya sering bermain bersama-sama. Hubungan kami akrab seperti adik beradik kerana aku anak tunggal dan aku menganggap mereka seperti kakak dan abang aku sendiri. Sudah menjadi kebiasaan aku bertandang ke rumah mereka dan mereka bertandang ke rumahku.
Aku menyukai Abang Zaki kerana dia baik orangnya. Kakaknya juga aku suka tapi kerena mereka bekerja maka rutin harian mereka agak sibuk. Jadi keraplah aku dan Abang Zaki berbual dan berborak mengisi masa lapang. Apatah lagi Abang Zaki juga masih belajar sepertiku. Dari apa yang aku tahu Abang Zaki belum mempunyai kekasih.
Malam minggu itu kedua orang tuaku balik ke kampung menziarahi nenek yang kurang sihat. Oleh kerana aku juga tidak berapa sihat maka aku menolak ajakan ibuku. Ibuku meminta Mak Long Kiah untuk melihatku yang tinggal seorang diri. Pada malamnya Abang Zaki datang menemaniku. Aku dan Abang Zaki menonton tv dan berborak kosong. Bila malam agak larut aku tidur-tidur di sofa sementara Abag Zaki duduk di karpet sambil menonton perlawanan bolasepak antara Manchester United dan Chelsea. Aku sememangnya tidak menyukai permainan bola sepak kerana itu aku memilih untuk tidur saja.
Tengah malam aku merasakan ada tangan meraba-raba dadaku. Aku terjaga namun pura-pura masih tidur, lalu aku buka sedikit mataku untuk mengintip. Ternyata Abang Zaki sedang tidur di lantai di atas karpet betul di bawah sofa tempat aku berbaring. Aku diam menanti apakah Abang Zaki sengaja merabaku atau tidak. Tiba-tiba tangannya bergerak pula di atas tetekku sebelah kiri dan meramasnya dengan perlahan sekali. Sungguhpun begitu gerakan-gerakan lembut tangannya dapat aku rasai. Pada mulanya aku cuba membantah dan menolak tangan Abang Zaki tapi kasihan kerana dia datang kerana menemaniku. Aku berfikir, tak apalah ini hanya di dada.
Lama kelamaan aku merasakan ramasannya makin kuat dan automatik menerbitkan satu rasa lain yang tak dapat aku ucapkan. Terasa nikmat bila jari-jari Abang Zaki berlegar-legar di tetekku yang membukit. Aku pura-pura tidur sambil menikmati perasaan sedap di dadaku. Tanpa aku sedar tangan Abang Zaki telah menyusup masuk ke dalam bajuku yang telah terbuka kancingnya. Tangan itu kemudiannya menyelinap masuk ke bawah baju dalamku. Abang Zaki menarik perlahan coliku sehingga buah dadaku terbuka dan tegak mengarah ke siling.
Tangan Abang Zaki yang terasa kasar itu membelai kulit tetekku yang halus dan menerbitkan rasa sedap, lazat dan nikmat. Pertama kali aku diperlakukan begitu oleh seorang lelaki dan aku seronok menanti tindakan Abang Zaki seterusnya. Lebih sepuluh minit Abang Zaki meramas-ramas dan memicit buah dadaku yang kenyal seperti belon getah yang dipenuhi angin. Bila tangannya menguli dan memicit lembut puting tetekku maka kemaluanku tiba-tiba mengemut.
Perasaan geli di dadaku dan kemutan di kemaluanku terasa sungguh enak. Aku menyukainya dan seronok menikmatinya. Kemudian aku rasa seperti ada cairan hangat keluar dari lubang kemaluanku. Bubir kemaluanku terasa basah. Aku cuba bertahan dan pura-pura tidur. Tetapi kegelian dan keenakan membuat aku tak dapat menahan suara desisan seperti orang kepedasan keluar dari mulutku.
Kemudian kulihat kepala Abang Zaki muncul dari lantai dan mulutnya mula menggantikan tangannya di puting tetekku. Aku dapat merasakan bibirnya mengisap lembut putingku yang sejak tadi telah mengeras. Tangannya beredar meramas teteku yang kanan sementara mulutnya berlegar di tetekku yang kiri. Aku cuba bertahan untuk tidak bergerak tetapi keenakan di dadaku membuat nafasku menjadi cepat dan tidak teratur. Nafsuku membuak-buak dan semakin aku bertahan untuk tidak memberi reaksi membuatkan sesuatu makin banyak keluar dari kemaluanku. Cairan hangat dan berlendir makin banyak membasahi seluar dalamku.
Tanpa melepaskan mulutnya di tetekku tangan kanan Abang Zaki menyusup ke dalam seluar dalam nipis yang aku pakai langsung menuju kemaluanku. Mula-mula mengelus bulu-bulu halus yang tumbuh di atas tundunku kemudian jarinya mulai mempermainkan belahan kemaluanku dengan sesekali mengorek-ngorek bibir buritku. Aku mulai merasakan geli-geli bercampur nikmat bila saja jarinya menyentuh kelentitku. Aku merasakan kemaluanku bertambah basah sehingga menimbulkkan sensasi yang tiada tara dengan gosokan jari Abang Zaki. Gosokan itu semakin lama semakin cepat bermain dan berlegar di bibir burit dan di kelentit. Sensasi nikmat itu menyebabkan aku bersuara mengerang kerana nikmat. Aku cuba menahan agar suara eranganku tidak didengar oleh Abang Zaki. Kadang-kadang aku mengangkat-ngangkat punggungku kerana nikmat.
Tiba-tiba Abang Zaki menghentikan aktivitinya. Aku membuka sedikit mataku dan terlihat Abang Zaki membuka seluar jeans yang dipakainya. Aku berdebar-debar menunggu tindakan berikutnya. Bila Abang Zaki menarik seluar dalam yang dipakainya maka terlihat zakar Abang Zaki keras terpacak. Kepalanya bulat sementara saluran darah warna biru melingkari batangnya yang agak panjang dan besar. Perasaanku semakin berdebar menunggu tindakan Abang Zaki seterusnya.
Aku membekukan diri pura-pura lena. Abang Zaki bergerak ke arah pahaku dan menyingkap kain yang aku pakai. Terasa Abang Zaki menarik seluar dalamku ke arah lutut. Aku kemudiannya dapat melihat muka Abang Zaki rapat ke pangkal pahaku. Hembusan nafas Abang Zaki terasa di kulitku. Hingga akhirnya hidung Abang Zaki berlabuh di permukaan kemaluanku. Aku dapat merasakan Abang Zaki mula menyedut aroma buritku. Lama Abang Zaki mencium kelentit dan bibir buritku. Aku seperti ingin menjerit kerana terasa sungguh enak dan nikmat.
Bila lidah Abang Zaki berlegar di hujung kelentitku yang membengkak dan bermain-main di lurahku yang merekah maka aku tak dapat bertahan lagi. Aku mengeliat badanku tapi aku berusaha memejam mataku. Aku tak mampu lagi mengawal diriku. Bila lidahnya menyelinap masuk ke dalam lubang buritku maka terpancarlah air hangat keluar dengan banyaknya membasahi kemaluanku. Aku rasa aku telah mengalami orgasme yang sungguh nikmat yang tak terperi rasanya.
Aku rasa Abang Zaki tak mampu bertahan lagi. Dia cuba merenggangkan pahaku dan mula menolak kepala zakarnya membelahi lurah buritku. Aku cuba merapatkan pahaku agar tidak berlaku sesuatu yang tak diingini. Abang Zaki menekan agak kuat dan kepala pelirnya yang telah dibasahi air mazi dan menyondol kelentitku. Aku melonjak seperti terkena arus elektrik. Bila di tekan lebih kuat maka batang butuh Abang Zaki meluncur di celah lurahku yang telah basah dan kepala pelirnya mengarah ke duburku. Abang Zaki mula menarik dan menekan berulang kali di celah pahaku.
Beberapa minit saja gerakan maju mundur di celah pahaku maka terdengar suara erangan keluar dari mulut Abang Zaki dan terasa batangnya berdenyut-denyut dan cairan hangat membasahi lurah dan punggungku. Beberapa kali Abang Zaki tersentak-sentak dan akhirnya dia menarik keluar batang butuhnya yang berlendir.
Beberapa minit kemudian aku melihat Abang Zaki memakai semula seluarnya dan dia bergerak ke pintu pulang ke rumahnya. Setelah pintu di tutup aku bangun melihat pahaku yang basah di sembur air mani Abang Zaki. Aku mencalit dengan jariku dan menghidu baunya. Terasa sedikit hanyir macam telur putih tetapi enak. Aku kemudian menjilatnya terasa berlendir tetapi lemak rasanya.
Sejak kejadian itu Abang Zaki makin jarang bertandang ke rumahku. Sekarang Abang Zaki telah beristeri dan mempunyai anak dan aku juga telah bersuami dan mempunyai anak. Sungguhpun perkara ini telah lama berlaku tapi kekal menjadi memori indah dalam hidupku.
Share:

Mengawan dengan Kawan Anak

Aku tinggal di kuala lumpur sudah hampir 10 tahun.. sebelum ni aku menetap di melaka.. aku sudah bercerai dengan suami ku hampir 3 tahun.. aku bosan hidup dengan suamiku yang jarang berada di rumah.. aku hanya ade seorang anak lelaki yg bernama din.. selepas bercerai, aku dapat penjagaan anak.. sekarang anak ku telah berusia 21 tahun.. aku berpindah ke kuala lumpur setahun selepas bercerai kerana dapat peluang pekerjaan di sana di sebuah butik terkemuka di kuala lumpur..
anak aku dapat melanjutkan pelajaran ke ipta shah alam.. so kadang2 aku hanya tinggal sorang di rumah kerana anak aku duk di asrama.. anak aku akan balik setiap hujung minggu.. bila tinggal seorang diri, aku kesunyian dan terasa inginkan belaian seorang lelaki.. adakalanya, keinginan batin ku memuncak sehinggakan cipapku sentiasa berair tidak henti-henti.. aku terpaksa melepaskan nafsuku hanya menonton vcd lucah setiap hari.. suatu hari anak aku telefon aku, " ibu, boleh x din bawa balik kawan din hujung minggu ni?? kawan din tinggal seorang di asrama.." aku membenarkan din membawa kawannya pulang ke rumah..
aku menanti pulangan anak ku setiap hujung minggu.. din biasanya akan tiba sebelum tengahari kerana dia menunggang motor.. tibanya din di rumah, aku menyambutnya dengan penuh kasih syg.. aku cium pipi anakku setiap kali dia pulang kerumah.. setelah mencium pipi din, din memperkenalkan kawannya pada ku.. nama kawan din, rahman.. rahman menghulur tangan bersalam dengan ku dan mencium tangan ku.. aku rasa seperti karen kitika rahman mencium tanganku.. terasa kegahirahanku datang tiba2.. maklum lah aku dah lama tidak di sentuh lelaki lain.. aku tersenyum melihat rahman.. wajah rahman tampan, senyumannya manis, berbadan tegap.. membuat hatiku terpesona melihat rahman.. aku menyuruh din membawa rahman kebilik untuk berehat sementara aku menghidangkan makan tengahari..
setelah makanan terhidang, aku memanggil din dan kawannya rahman turun makan.. aku kagum melihat tubuh rahman yang hanya berpakain singlet dah berseluar bokser.. kami makan bersama.. sewaktu makan, aku cuba menyentuhkan kaki ku ke kaki rahman.. rahman tersentak, tapi hanya buat x tau je.. aku gosok2 kan kakiku ke kaki rahman.. rahman hanya diamkan diri dan teruskan makan.. tiba2 aku terasa seperti ade sesuatu meraba di celah peha ku, aku jeling kebawah, aku lihat kaki rahman , meraba2 peha ku.. aku tersenyum melihat rahman.. kaki rahman semakin berani merayap sehingga ke cipap aku.. dia cuba masuk jari2 kakinya ke dalam spender aku.. aku hanya mendiamkan diri.. akku terasa kesedapan bila jari kaki rahman mengusap2 cipapku.. aku x tahan, aku menolak kaki rahman ke bawah.. rahman tersenyum melihat gelagat aku.. selesai makan, aku meminta din mengemas meja sementara aku hendak membasuh pinggan di dapur.. din meminta rahman menghantarkan pinggan2 kotor kepada ku utk di basuh.. rahman memanggil aku, "makcik, pinggan ni hendak letak di mana??" aku menyuruh rahman meletakkan di dalam singki. rahman berpura2 tersentuh buah dada ku.. aku hanya tersenyum.. dan berkata, "nakal ek??.. kalau nak cakaplah.. untie boleh bagi.. ".. rahman tersenyum dan mencium pipiku.. aku faham, rahman dah dah terasa ghairah.. setelah selesai mengemas meja, din mengajak rahman masuk ke bilik untuk berehat..
aku menghabis keje di dapur.. setelah selesai, aku pergi mandi untuk bersihkan diri.. waktu tiba di bilik air ade orang.. aku tunggu di dapur sambil baca majalah.. tiba2 pintu bilik air terbuka.. rupa2nya rahman yang berada dalam bilik air td.. rahman menegur aku, "anti nak mandi ke??".. aku jawab "ye.. napa nak join ke??".. rahman tersenyum dan menjawab, "boleh ke??".. aku pun menganggukkan kepala.. tapi aku bertanya dulu, "din tengah watpe??".. rahman memberitahu din sedang tidor nyenyak.. din memang begitu, kalau dah tido, bom meletup pun x sedar..
aku menarik tangan rahman masuk ke bilik air.. setelah aku menutup pintu bilik air, rahman tiba2 mananggalkan tuala yang dipakainya.. nah!!! terpacak adik rahman yang dah menegang, panjang n besar batang man.. macam timun.. hehehe.. man terus mencium bibirku dengan rakus.. aku pun membalasnya dengan lemah lembut.. sambil itu tangan rahman merayap ke buah dada ku dan meramas-ramasnya.. aku rasa kesedapan.. rahman menanggalkan kesemua pakaian ku.. kami telah bertelanjang bulat.. rahman mencium bibir ku sekali lagi.. sesekali dia masukkan lidahnya ke dalam mulut ku.. aku menghisab2 lidahnya.. tangan rahman semakin berani merayap mencari cipapku, aku membuke sedikit kelengkang ku untuk memudahkan rahman membelai2 cipapku.. aku terasa nikmat sangat bila dia memasukkan jari ke lubang cipap ku.. aku pun tidak melepaskan peluang meraba batang rahman yang besar dan panjang tu.. fuhhh!!.. lama aku x sentuh batang lelaki.. aku melancapkan batang rahman.. rahman mengeluh kesedapan..
rahman turun mencium leher ku, bahu ku dan terus menghisap buah dada ku.. abis sekitar buah dada ku, di gigit dan hisap dengan rakus oleh rahman.. aku menolak kepala rahman kebawah dan minta rahman menjilat cipapku.. rahman hanya mengikut.. aku duduk di mangkuk tandas dan mengangkangkan kaki ku.. rahman menjilat cipap aku dgn rakus.. aku kesedapan.. "ahhhh!! sedap syg.. sedap sangat.. aahhhhhhh!!! lagi syg.. sedap sangat..."" mendengar rintihan aku itu, rahman semakin rakus.. dia masukkan lidahnya kedalam cipap aku.. aku merasakan kepalanya berpusing2 sambil memainkan lidahnya di dalam cipap aku.. aku berasa kekejangan.. aku menekan kepala rahman ke cipap aku.. aaaaaaaahhhhhhhhhhhhh!!!!!!!!!.. aku klimaks buat kali pertama.. dah lama aku x rasa begini..
aku minta rahman berdiri dan aku hisap batang rahman.. btg rahman memenuhi ruang mulut ku.. aku maju undurkan kepalaku menghisab batang rahman.. sesekali, aku tekan kepala ku agar batang rahman masuk dalam2 ke rongga mulut ku.. aku menjilat2 kepala btg rahman.. aku hisab buah rahman.. rahman hanya memejamkan mata kesedapan.. aku hisab kembali batang rahman, aku maju undurkan kepala ku laju2.. aku nak rahman terpancut dalam mulut aku.. semakin lama, kepala ku semakin laju bergerak.. rahman minta aku berenti kerana dia rasa nak terpancut.. aku dapat rasakan batang rahman semakin menegang dan bergetar2 di dalam mulut ku.. crrrriiiiittttt!!! rahman terpancut dalam mulut ku.. aku menghisap habis semua air mani rahman.. banyak sangat.. dah lama aku x dapat rasa air mani lelaki yang lemak berkrim ni.. hehehe.. setelah itu, kami mandi bersama2.. aku tau, rahman x puas.. kerana batangnya telah tegang kembali.. aku menyatakan, kita sambung di dalam bilik lepas mandi ni.. rahman hanya tersenyum lebar..
selesai mandi, aku menyuruh rahman pergi tgk din di dalam bilik sementara aku menunggunya di bilik aku.. x lama kemudian, rahman muncul di pintu bilik aku dan tersenyum.. dia kate din masih tidor x sedarkan diri.. rahman terus masuk ke bilik dan menarik tuala ku.. aku telanjang bulat.. rahman melonderkan pula tualanya dan membaringkan aku di atas katil dan dia baring disebelah ku.. rahman mengucup bibirku dengan rakus sambil tangannya meramas2 buah dada ku.. rahman turun mencium leher ku, dan terus ke buah dada ku.. rahman menghisab buah dada ku puas2.. aku mengerang kesedapan.. ahhhhh!!!!! sedapnya syg.. rahman gigit puting tetek aku.. terangkat2 dada aku menahan sakit tp sedap.. tangannya turun pula meraba cipap aku.. dia menggetel2 biji kelentit ku sambil menghisab buah dada ku.. aku mengerang kesedapan.. ahhh!!! sedap syg.. aaahhhh!!! nafas aku semakin kencang.. rahman memasukkan jari2nya kedalam cipap aku sementara mulutnya masih menghisab buah dadaku.. aku mengeliat kesedapan.. bontot aku terangkat2 menahan nikmat.. ahhh!!!! sedapnya!!!! syg jolok laju lagi.. rahman melajukan jarinya kuar masuk cipap aku.. menjerit kesedapan.. I coming syg!!! i coming!!.. rahman x endar jeritan ku.. dia menggigit puting tetek ku dan melajukan pergerakkan jarinya di cipap aku.. aku mengejang dan mengeluarkan cecair klimaks membasahi tangan rahman..
rahman mengambil selimut dan mengelap cipap aku sehingga kering.. kemudian dia menjilat cipap aku dgn ganas.. aku mengerang sekali lagi kesedapan.. ahhhh!!!! rakusnya syg.. gelilah... rahman teruskan jilatan.. dia menghisab mengigit2 biji kelentit aku.. aku semakin kesedapan.. rahman memasukkan semula jarinya ke dalam cipap ku sambil dia menjilat biji kelentit ku.. aku rasa ngilu kesedapan.. aku cuba menolak kepala rahman tp tidak terdaya.. aku mengerang kesedapan.. aaaahhhh!!!! syg!!! ngilunya!!!! i x tahan.. ku gerak2kan punggungku kekiri kekanan.. tp rahman masih tetap menjilat biji ku dan melajukan pergerakkan jarinya dalam dalam cipap ku.. semakin lama, semakin laju pergerakkan tangan rahman.. aku kesedapan.. syg, i x tahan.. dah datang lagi.. aaahhhh!!!! aaaaaarrgggggggggg!!!!!!.. aku klimaks buat kali kedua.. hmmmm.. badan aku terkejang.. x sangka rahman pandai melayan aku.. aku terasa puas..
rahman mengankangkan kaki aku, dan memasuk btgnya ke dalam cipap aku.. aduh!!! sakit sgt.. btg rahman terlalu besar dan panjang.. aku menyuruh rahman memasukkan perlahan2.. maklumlah, aku dah lama x dapat batang lelaki sejak berpisah dgn suami aku.. rahman menekan kuat lagi batangnya kedalam cipap aku.. ccrrruuuppp.. batangnya masuk sepenuhnya kedalam cipap aku.. aku menahan sakit, tapi sedap.. rahman mengoyangkan punggungnya perlahan2 sambil dia mencium2 bibir dan leherku.. tangan kirinya pula meramas2 buah dada ku.. aku terasa nikmat dengan belaian rahman.. rahman meneruskan ayunannya.. aku kesedapan.. semakin lama, ayunan rahman semakin laju.. terasa btgnya menujah2 ke rahim aku membuatkan aku terasa senak.. aku di buai keayikan.. ayunan rahman semakin laju.. aku semakin mengerang kesadapan dan terasa hendak klimak sekali lagi.. badan aku mengejang.. aaahhhh!!!!! aku klimaks buat kali ketiga.. rahman masih menggoyangkan punggungnya menujah btgnya dalam cipap aku.. sesekali dia menghisab tetek aku dengan rakus.. mengerang kesedapan.. lagi syg!!! lagi!!! sdp sgt2... tiba2 rahman membangunkan aku dan mencium leher dan mulut ku.. punggung di angkat2.. tujuahan batangnya semakin terasa di dinding erahim ku. aaaahhhhhhhhh!!!!!!!! sedapnya.. aku rasa lebih selesa dengan begini.. rahman semakin agresif.. " i dah nak terpancut.. pancut dalam or luar??.. aku menyuruh rahman pancut dalam.. bila dengar aku suruh pancaut dalam, rahman membaringkan aku semula dan melajukan ayunannya.. caranya ni membuat aku mengejang terasa akan klimaks sekali lagi.. aku menjerit!! dah datang lagi syg.. rahman melajukan ayunannya.. dan.. CRRRIIIIITTTTTTTTTTT... rahman terpancut dalam cipap ku.. dalam masa yang sama, aku juga klimaks buat kali yang ke4..
rahman rebah di atas dada ku dan membiarkan btg mengendur sendiri di dalam cipapku.. aku berasa keletihan dan puas sangat2.. x kusangka, rahman seusia dengan anakku lebih hebat dari bekas suami ku.. x pernah kurasakan kepuasan seperti ini.. terima kasih rahman...
Share:

Mengendap Dan Rogol Isteri Orang

Sex. Aku memang kuat. Walaupun sudah ada isteri aku masih menyimpan perempuan lain. Cerita ini baru berlaku tak berapa lama dulu. Aku suka main perempuan, tinjau perempuan mandi walaupun isteri orang. Dekat tempat kerja aku, ramai perempuan yang gebu-gebu termasuk isteri orang. Salah seorang tu namanya R. Bodynya cantik, tetek 36 pinggang ramping, putih melepak. Aku selalu mengintai lenggang lenggok punggungnya yang mengiurkan. Pada satu hari aku berkunjung ke rumahnya untuk pergi memancing dengan suaminya. Sampai di rumah, R mengatakan suaminya keluar sekejap entah kemana. R menjemput aku masuk duduk dulu. Lepas R menghidangkan air minuman, dia berlalu ke biliknya.
Sekejap itu dia keluar berkemban terus ke bilik air. Hati aku berdebar bila terlihat keputihan bodynya. Aku bangun menjenguk ke biliknya. Terletak bra dan seluar dalamnya atas katil. Aku capai branya lalu aku cium. Punyalah wangi. Tengok saiznya 36b punyalah besar. Tetek isteri aku baru 34. Konek aku mencanak tegak. Aku dengar air berderau di bilik air. Tanpa buang masa aku mencari lubang. Dari bawah pintu saja yang nampak. Tanpa berlengah aku menjenguk dari situ. Terserlah tembam pantatnya. R sedang menyapu sabun di sudut-sudut sulitnya. Lagilah aku tak tahan melihatnya. Aku bangun jenguk keluar. Line clear. Aku tunggu R di luar pintu bilik air. Perasaan aku berdebar-debar menunggu R keluar. Terdengar kunci bilik air terbuka. Aku terus menolak R ke dalam semula. R terperanjat sampai tak berkata-kata. Aku tarik kainnya, terburai tetek 36 nya putih gebu......
Aku terus sedut dan mengepal teteknya. R bersuara, “Jangan tolonglah. Saya menjerit nanti ahh. janganlah”. Aku terus sedut dan meraba pantatnya. Bau wangi syampu rambutnya buat aku mengila. Terus menjalar tangan aku ke setiap sudut bodynya. R meronta-ronta untuk melepaskan diri. Aku kunci terus bilik air tersebut. Terus aku junamkan kepala aku ke pantatnya. Aku jilat biji kelentit R semahunya. R cuma diam tak berkata-kata. Aku jilat, aku sedut bijinya, tangan aku meramas kedua-dua teteknya. Uli punya uli, aku merasakan teteknya mula beri respon menegang. Sambil jilat pantatnya, mata aku menjeling ke atas. Aku lihat R tengah memandang ke arah aku. Cepat-cepat ia memusing arah lain. Aku tahu R telah mula merasakan kesedapannya. Aku terus uli tetek dan menjilat pantatnya. Sekejap tu perlahan terdengar suara R mengeluh kesedapan.....
“Aaahhh. emmmm.”. Matanya memandang aku yang sedang menjilat pantatnya. Aku terus melajukan lagi jilatan ke bijinya. “Eemmmm. emmmmm”. Aku bersuara, “Sedapnya pantat kau R. emm ahhhh emmmhuuuuh.”. Kejap itu mata R pejam. R meletakkan tangannya di kepala aku dan menekan ke pantatnya. “AAAAhhhhh. emm ahhh. oh. arrrarrrr”. Semakin kuat suara R menunjukkan dia dah sampai kemuncak. Aku sedut dan terus hisap bijinya. Lama R mengerang. R kejang mengigil menolak-nolak pantatnya ke mulut aku. Terasa air mengalir dalam mulut aku. R diam. keletihan. Aku bangun terus letaknya duduk di atas kolam. R pandang ke arah aku dan ia bersuara, “Tolong cepat sikit. nanti suami aku balik”. Aku tanya, “You tak nak lagi ke?”. R mengelengkan kepala.
Aku kangkangkan R. Aku bisik di telinganya yang aku dah lama geram kat dia sambil konek aku menjunam ke dalam puantatnya. R mengerang. Aku picit teteknya. Aku putar-putar kiri kanan. R membisu. Selain itu R suruh aku pancut cepat. Aku kata kalau nak cepat jilat tetek aku. R terus jilat dan sedut tetek aku. Punyalah manja, terasa mulut dan pantat sama panas Aku hayun seolah-olah nak mengoyakkan puki R. “Ganasnya”, R bersuara. “Barang baru. sayang. Uhu. ahhh. uhh. ahhh RRRRRR sedapnya”, aku makin kuat menghentak menyebabkan R semakin terkangkang luas. “Uuhh. ahahhhhhhhh. dah datang sayang uhhhh R R R ahhhh. “. Aku menekan sedalamnya ke dalam tabung R. “Ahhhhh. Uhhhh eeeemmmaa aaaa aaaaa aaaa”. R membeliakkan matanya ke arah aku. Aku terus rebah ke atasnya. Aku bisik padanya, “Sedapnya pantat kau R”. Dia membisu dan menolak aku. Aku bangun. Janji aku puas. Dapat juga pantat kau R.
Share:

Mengidam Kulup

Aku mengidam konek berkulup. Normalkah aku? Aku amat teruja bila melihat zakar dalam bentuk originalnya. Tiap kali aku melihat gambar zakar tak bersunat dadaku berdebar. Tiap kali melihat paparan alat kelamin lelaki yang masih utuh kulupnya ghairahku bangkit. Bila melihat kepala penis seperti mengintip disebalik sarung kulup hormon adrenalinku mengalir deras. Perasaan ini tidak pula terjadi bila melihat zakar yang berkhatan samada lembik atau keras terpacak. Aku sendiri tak pasti kenapa perasaan ini timbul.
Sejak kebelakangan ini keinginan seksku makin meningkat. Aku sendiripun tak tahu kenapa ghairahku membuak-buak bagaikan lahar gunung berapi. Aku sedar sejak sebulan dua ini aku menjadi ketagih melayari laman web lucah. Pelbagai aksi asmara menjadi menu harianku. Wanita putih, wanita jepun, lelaki putih, lelaki hitam semuanya terbayang di fikiranku. Tetapi yang pasti aku amat berminat melihat pelbagai bentuk zakar lelaki. Kalau boleh aku ingin merasai kenikmatan pelbagai bentuk zakar tersebut.
Bila aku sering melihat wanita mat saleh membelai dan melancap zakar yang masih ada kulupnya perasaanku menjadi tidak keruan. Bagiku zakar berkulup sungguh cantik dan seksi. Terlihat saja zakar tak berkhatan bibir farajku terasa gatal. Zakar putih atau zakar hitam asal saja tak bersunat boleh membuatkan farajku serta merta basah. Seperti tercium di hidungku bau kepala zakar yang sentiasa lembab itu. Kemaluanku bagaikan menggamit-gamit supaya zakar-zakar berkulup membenam dalam rongga buritku.
Terbayang di layar fikiranku bagaimana berseri-seri wajah gadis-gadis kulit putih bermain-main dengan batang berkulup. Dilancap dan dilurut-lurut dengan tangan mereka yang lembut dan gebu. Hidung macung menempel dan menghidu aroma kulup. Kepala pelir yang masih tertutup kulup dijilat dan dikucup mesra. Lidah yang runcing dimasukkan ke dalam kulup. Lidah yang basah merah berlegar-legar bermain kepala pelir yang masih terbungkus kulup. Ahh... segala-galanya kulup.
Dan diakhir adegan lengan-lengan comel dengan lembut akan memandu kepala berkulup mencecah lurah merekah. Dengan pantas lelaki negro dengan gagahnya memompa rongga kemaluan wanita kulit putih yang cantik. Batang hitam berurat itu lancar keluar masuk lubang nikmat warna merah. Wanita kulit putih mengerang dan menjerit penuh nikmat. Sinar kepuasan terpancar dari mata gadis-gadis kulit putih yang muda belia. Batang-batang berkulup itu diterima dengan penuh mesra oleh burit-burit indah minah-minah saleh. Dan buritku juga mula berair bila membayangkan itu semua.
Sebagai seorang penyambut tetamu di sebuah hotel lima bintang aku sentiasa berjumpa dengan berbagai jenis tetamu. Sejak dua hari lalu aku sentiasa ditegur ramah oleh seorang tetamu berbangsa cina. Aku kenal beliau bernama Toni Lim berasal dari Johor Baharu. Toni Lim berperawakan menarik. Tinggi lampai dan seksi. Satu hari dia mengajakku minum di cafe hotel. Agar tidak mengecewakan pelanggan hotel aku menerima ajakannya. Sambil minum Toni yang mesra dan ramah bercerita berbagai hal.
Satu yang menarik bagiku bila dia bercerita mempunyai dua orang wanita simpanan. Seorang gadis cina dan seorang gadis melayu. Aku mula tertarik dengan lelaki cina berumur 28 tahun ini yang bertugas sebagai pengurus sebuah syarikat. Aku ingin mengetahui kehebatan Toni yang membuatkan dua gadis tersebut menyayanginya. Aku pernah melihat gambar gadis-gadis tersebut. Kedua-duanya memang cantik dan menarik.
Aku tak tahu apa ilmu yang diguna oleh Toni Lim. Sejak mula aku memandangnya aku telah tertarik. Dan sejak itu aku membayangkan zakar Toni yang tak bersunat terpacak di hadapan wajahku. Aku harap Toni Lim tak berkhatan macam kebanyakan lelaki cina. Aku harap keinginanku menikmati zakar berkulup akan terkabul. Aku akan lakukan seperti apa yang perempuan mat saleh buat di layar komputerku. Aku teruja bila lidah-lidah merah muda meliuk lintuk masuk ke dalam muncung kulup di hujung zakar. Hujung lidah yang runcing tersebut membelai kepala zakar yang masih terbungkus dengan kulit kenyal. Ahh... sungguh menarik.
Bagai pucuk dicita ulam mendatang. Aku bersetuju saja bila Toni mengajak aku ke biliknya. Tapi pada mulanya aku buat-buat jual mahal. Aku tersenyum bila Toni merayuku. Dia bersedia memberiku seutas rantai emas jika aku menurut kehendaknya. Aku masih berpura-pura dan berhelah, padahal hatiku melonjak-lonjak ingin segera dibelai oleh seorang lelaki. Sudah beberapa bulan aku gersang kerana berjauhan dengan tunangku. Dan aku akui telah beberapa kali terlanjur dengan tunangku. Daraku telah tergadai kepada tunangku. Dan sejak peristiwa itu aku menjadi ketagih hubungan jasad pria wanita.
Selepas kerja pada hari itu aku mengikut Toni Lim ke biliknya. Selepas mengunci pintu bilik hotel yang disewa Toni Lim aku berjalan menuju ke katil besar di tengah bilik. Toni Lim pula, tanpa membuang masa terus merangkul pinggangku lantas mengucup leherku. Aku menyerah saja dan membiarkan lidah lelaki cina itu menjelajah dan menjilat leherku sehingga basah lencun. Kedua bibir kami bertaup. Lama juga kami berkucupan dan bergantian kuluman lidah. Aku seperti tidak terkawal lagi terus memeluk dan membalas setiap perilakunya ke atasku. Leher dan telingaku dijilat-jilatnya. Tangannya menggapai kedua-dua bukit berapitku dan meramas-ramasnya. Aku mendesah kegelian dan kesedapan. Aku malah semakin ghairah dengan setiap tindakan Toni Lim keatas diriku.
Tangan Toni Lim mula menyusup ke dalam baju mencari bukit kembarku. Bibirku disedut-sedut, tetekku diramas-ramas, tangan kirinya pula menyelak skirt yang ku pakai. Dengan mudahnya dia dapat menemukan jari tengahnya dengan alur buritku, dia cuba menarik turun seluar dalam yang kupakai. Aku membantu memberi laluan, memudahkan jari-jarinya itu menyusup mencari kelentit dan pantatku yang sememangnya dah terlalu lama menanti untuk disentuhnya dan rela untuk dibuat apa saja. Antara kami sudah tiada bicara lagi, hanya dengusan nafas yang dikuasai nafsu, rengekan-rengekan asmara dan penuh ghairah yang kedengaran. Aku pula mengusap-usap zakar Toni Lim dari luar seluarnya.
Ketika aku menurunkan zip seluarnya, aku dapat merasakan zakar Toni Lim sudah mengeras dan menegang. Toni Lim semakin ghairah dan tekun mengorek-ngorek lubang buritkuku dengan jari telunjuknya. Sesekali dia menyentuh mutiara nikmatku yang membuatkan aku meramas-ramas geram batang butuhnya. Tak sabar rasanya ingin menikmati batang segar Toni Lim. Aku melorot seluar Toni ke arah kakinya. Sekali sentap seluar dalam Toni terlondeh. Dalam sinar lampu yang redup aku dapat melihat dengan jelas zakar Toni Lim yang terpacak keras. Puas rasa hatiku bila jelas terlihat kepala zakar Toni Lim masih utuh tertutup kulit kulup. Ternyata Toni Lim tidak bersunat. Malam ini farajku akan dapat merasai butuh berkulup. Apa yang aku idam-idamkan selama ini akan menjadi kenyataan. Aku tersenyum puas.
Kepala butuh Toni membengkak dan mengembang. Kepala merah tersebut seperti tak sabar-sabar ingin keluar daripada kulit yang membungkusnya. Aku memberanikan diri melurut kulitnya untuk melihat bentuk kepala tajinya itu. Sungguh cantik. Kulitnya sungguh halus, merah dan lembab. Pantas aku menempelkan hujung hidungku dan menghidu aroma kepala zakar Toni. Baunya sungguh menghairahkan. Makin lama aku cium makin kerap kemaluanku mengemut. Terasa cairan panas mula mengalir keluar dari rongga buritku. Buritku terasa gatal-gatal dan minta digaru-garu oleh batang pelir lelaki.
Bilik hotel yang cantik ini akan menjadi saksi kepada perlakuan seksku dengan seorang lelaki cina. Pertama kali di atas tilam empuk ini burit melayuku akan menerima kehadiran zakar cina yang tak berkhatan. Zakar tak bersunat yang menjadi kegilaanku. Apakah aku ini gila? Atau aku tidak normal? Lantaklah... aku tak kisah itu semua. Matlamatku hanya satu, menikmati zakar yang masih utuh kulupnya. Makin tebal kulupnya makin aku suka. Tapi zakar yang kulit kulupnya tak boleh diloceh aku tak gemar. Zakar jenis ini macam zakar budak-budak. Zakar jantan sejati mesti mempunyai kulup yang boleh disingkap dan memperlihatkan kepala licin yang memekar. Kepala licin lembab yang menerbitkan aroma seksi. Aroma yang membangkitkan nafsu.
Nafsu kami membara. Membakar rohani dan jasmani. Keinginan nafsu birahi ini perlu dilampiaskan. Pakain yang membalut tubuh kami telah terlucut, tergeletak di lantai. Kami berdua bagaikan Adam dan Hawa bila terusir dari syurga. Tiada seurat benang yang meliliti badan kami. Dalam keadaan telanjang bulat kami bergomolan dengan rakus. Tiada lagi penghalang antara badanku dengan badan Toni Lim. Berdecit-decit bunyi mulut dan bibir berkucupan dan bergantian kuluman lidah. Kulit kami bersentuhan tanpa sebarang alas yang menghalang. Tanganku lincah mengenggam dan melurut batang butuh Toni Lim yang keras dan kenyal. Terasa zakar lelaki cina ini makin membesar dan memanjang dalam genggamanku. Aku hidu bau-bau yang melekat di tapak tanganku. Sungguh nyaman dan membakar nafsuku.
Aku seperti orang kerasukan, tak mampu lagi mengawal diriku sendiri. Aku menolak badannya ke samping dan segera bangun dari berbaring. Toni Lim terlentang dengan batang pelir berukuran tujuh inci tegak macam tiang bendera. Aku lurut kulup ke bawah memperlihatkan kepala berbentuk kudup cendawan merah menyala. Sepantas kilat aku memasukkan batang pelirnya ke dalam mulut ku. Tidak sebagaimana biasa yang selalu kulakukan bila bersama tunangku. Kebiasaannya aku akan menjilat-jilat manja hujung zakar tunangku sebelum mengulum kesemuanya. Bersama Toni Lim aku menjadi gelojoh. Aku geram melihat kepala butuhnya yang bertutup kulup itu.
Keghairahanku bagaikan gunung berapi yang bila-bila masa akan memuntahkan laharnya. Hisapan dan kulumanku ke atas torpedonya membuatkanToni Lim mengerang menahan kegelian. Bila aku berleka-leka memainkan hujung lidahku di hujung pelirnyaya badan Toni Lim tersentap-sentap bagaikan terkena aliran elektrik. Akhirnya aku mencelapak ke atas badan Toni Lim. Dengan kedudukanku yang sedikit menonggeng semasa mengulum dan menghisap batang zakarya, Toni Lim bertindak mengorek-ngorek lubang pantatku dengan jari tengahnya. Tak lama selepas itu dia menyusup ke bawah badanku dan menjadikan kedudukan kami dalam posisi 69. Konek kulupnya aku lahap dan dia pula menyantap buritku yang membengkak. Bibir vaginaku yang tebal digigit dan dikulum mesra. Kata Toni aku mempunyai vagina yang cantik yang pernah dilihatnya.
Kami sama-sama menikmati kegelian dan kesedapan. Aku dengan batang pelir berkulup yang menjadi idamanku sementara Toni Lim melahap kelentitku yang sederhana besar. Kelentitku yang menonjol itu memudahkan Toni Lim membelai dengan lidahnya. Setelah puas melepaskan kerinduanku kepada batang butuh tak berkhatan dan lubang kencing Toni Lim mula menerbitkan lendir masin, aku baring telentang menunggu serangan terakhir Toni Lim. Seperti faham kemahuanku, Toni Lim bangun dan berlutut di celah kelangkangku. Aku sudah bersiap sedia menerima tindakan susulan dari batang kote berkulupnya. Aku yang terlalu ghairah tidak berlengah lagi terus mengangkang seluas-luasnya untuk memberi ruang paling selesa kepada kepala butuh mencari sasaran. Lubang pantatku yang lencun berlendir campuran cairan pelicirku dan lior Toni Lim terkemut-kemut seperti meminta disegerakan permainan. Toni Lim tidak segera menjunamkan kepala cendawannya itu sebaliknya menekan-nekan kepala tajinya yang merah ke biji kelentitku. Aku hanya mampu mengerang menikmati perasaan nikmat dan lazat.
Makin kuat suaraku mengerang bila dibuat begitu. Aku merayu-merayu meminta supaya dia segera memulakan permainan. Aku tak mampu bertahan lagi. Toni Lim memegang batang koneknya dan melurut-lurut kulupnya supaya bertambah keras. Kepala bulat dan merah itu diacukan ke arah bibir buritku yang merekah basah. Bila saja kepala licin itu terbenam menyelinap diantara dua belahan bibir kemaluanku, segera ku paut pinggangnya dan menariknya supaya semakin rapat dengan ku. Tindakan ku itu difahami Toni Lim yang segera menekan kuat dan sekelip mata saja batang pelirnya lenyap dari pandanganku ditelan lubang pantat ku yang kehausan. Padat rongga buritku menerima batang berurat berukuran tujuh inci.

Acara keluar dan masuk, sorong dan tarik bermula. Laju perlahan, laju perlahan, tekan tarik, sorong tarik. Sesekali menghentak sedikit kuat. Aku rasa sungguh nikmat bila sekali sekala Toni Lim menghentak kuat. Terasa senak tapi sungguh sedap. Tangannya tak duduk diam meramas-ramas tetekku yang mekar dan kenyal. Mulutnya mencium leher dan sesekali menjilat cuping telingaku dan menyedut puting tetekku yang sebesar jari kelingking. Aku mengetap bibir menahan kesedapan. Acara sorong tarik, tekan dan goyang berjalan lancar dan rancak. Suara-suara rengekanku kedengaran semakin jelas. Sesekali aku mendongak sedikit untuk melihat keindahan batang konek berkilat bermandikan air nikmat keluar dan masuk lubang buritku yang telah banjir. Aku mengayak dan menggoyangkan pantatku supaya Toni Lim dapat merasai nikmatnya. Aku mengemut secara berirama meramas-ramas batang Toni Lim. Toni Lim mendengus penuh nafsu menikmati permainanku.
Tiada lagi perasaan malu. Aku mengerang dan menjerit kesedapan. Aku tak mampu bertahan lagi. Aku rangkul dan peluk badan Toni Lim. Aku lonjak-lonjak bontotku agar batang Toni Lim sepenuihnya berada dalam rongga buritku. Badanku kejang, pahaku menggeletar dan kedua kakiku menendang-nendang udara. Dengan satu suara jeritan nikmat aku mencapai orgasme. Aku dapat merasakan aliran cairan panas mencurah keluar dari lubang nikmatku. Aku klimaks buat pertama kali.
Melihatkan aku mencapai kemuncak klimaks dan tidak lagi melawan, Toni Lim mendiamkan batang kulupnya seketika. Batang kulupnya yang masih keras bertapa dalam rongga buritku. Toni Lim memberi ruang agar aku mengatur nafasku. Dadaku turun naik berombak dan beralun. Beberapa minit kemudian, Toni Lim memaut pinggangku dan memulakan dayungan yang berhenti seketika. Dengan tangannya yang sasa itu, mudah saja pinggangku terangkat. Belum pernah aku menerima hayunan sebegini dari tunangku. Dalam keadaan badan sedikit terangkat, aku dapat merasakan gesekan batang pelirnya agak keras ke pangkal rahimku. Aku tak tahan dengan cara sebegini, dan sekejap saja aku mencapai klimaks yang kedua dari Toni Lim.
Seperti biasa Toni Lim akan mendiamkan diri dan merendamkan batang kerasnya dalam lubang buritku. Aku tak tahu ubat apa yang Toni guna hingga dia mampu bertahan. Sekarang baru aku faham kenapa kedua-dua gadis simpanannya menyayanginya. Kehebatan Toni Lim mengalahkan tunangku. Bila aku kembali melawan Toni mencabut batang hebatnya. Dia tidur telentang dengan batangnya yang berlendir terpacak keras. Aku faham kemahuan Toni Lim. Aku merangkak dan mengangkang badan Toni Lim. Dengan posisi aku di atas aku duduk mendekatkan lubang buritku yang ternganga ke arah kepala bulat yang terloceh. Aku suka posisi ini kerana aku dapat mengawal permainan ikut keselesaanku. Aku rapatkan pantatku dan dengan pantas kepala merah terbenam hingga ke pangkal bila aku menurunkan badanku. Aku diam seketika.
Bila perasan geli dan nikmat menjalar ke sekujur tubuhku, aku mula menggerakkan punggungku naik turun. Aku dapat melihat wajah Toni Lim meringis kesedapan. Peluh mencurah-curah membasahi tubuh kami berdua. Air nikmat makin banyak keluar membasahi batang Toni Lim yang memutih dengan buih-buih berlendir. Toni Lim hanya mendiamkan diri sahaja. Aku yang memainkan peranan utama. Beberapa minit kemudian aku dapat merasakan tindakan buas dan ganas Toni Lim. Badanku ditolak ke tilam dan memusingkan tubuhku. Dalam posisi meniarap punggungku diangkat. Aku faham Toni Lim ingin bermain dalam posisi doggie.
Aku suka stail anjing mengawan ini sebab terasa gesekan batang beurat seperti mengasah titik nikmat yang dipanggil G-pot dan bahagian atas lubang buritku. Aku dapat merasakan Toni Lim mengacah-acah kepala torpedonya di pintu terowong nikmatku. Aku menonggek sedikit ke atas memberi laluan selesa kepadanya. Toni Lim menekan sedikit ganas. Geram agaknya. Acara sorong tarik sebegini membuatku menjerit-jerit kesedapan. Aku sudah tidak menghiraukan lagi samada suaraku didengari orang atau pun tidak. Yang pentingnya, aku mesti mendapatkan klimaksku segera. Toni Lim meramas-ramas kedua tetekku dari belakang dan aku pula sibuk menggentel biji kelentitku sendiri. Lama juga kami bermain dalam posisi anjing mengawan ini. Bergegar tubuhku bila Toni Lim menghentak pangkal pahanya ke daging punggungku. Terayun-ayun tetekku mengikut irama sorong tarik Toni.
Nikmat, nikmat dan nikmat. Aku tak malu mengerang dengan kuat dan panjang. Bagiku, itu saja cara yang dapat kuluahkan bila menikmati kelazatan dan kemanisan persetubuhan. Aku juga dapat mendengar suara serta nafas Toni Lim yang semakin laju. Aku menjangkakan dia akan klimaks tidak lama lagi.
Toni Lim memulakan hayunannya perlahan-lahan kemudian laju-laju, perlahan-lahan kemudian laju-laju, gerakan dan hayunannya semakin laju dan ganas. Aku menjerit kesedapan, dia pula mengeluh sedap. Aku megerang dan merengek. Gerakan sorong tarik makin laju. Toni mendakap belakangku. Hidungnya mencium ganas pangkal leherku. Rangkulan Toni makin kejap. Nafas Toni seperti pelari pecut. Dan dengan satu hentakan kuat Toni Lim mengeluh panjang sambil menghamburkan cairan hangat di dalam rongga vaginaku. Berkali-kali Toni melepaskan air nikmatnya. Kepala koneknya akan mengembang tiap kali benihnya memancut. Aku membiarkan saja Toni Lim menyemburkan air maninya ke dalam rahimku. Sungguh nikmat bila cairan panas menyiram pangkal rahimku. Aku dapat merasakan air mani Toni Lim sungguh banyak. Mungkin telah beberapa hari Toni Lim menyimpan benihnya itu. Biarkan benih-benih itu berenang dengan selesa dalam rahimku yang subur.
Lama juga permainan kami yang kuanggarkan hampir satu jam. Aku puas bermain seks dengan Toni Lim. Toni Lim juga puas bersamaku. Katanya kemutanku memang hebat. Perempuan simpanannya tak sehebat layananku katanya. Lubang nikmatku sempit katanya lagi. Jarang dia menemui bentuk lubang burit seperti kepunyaanku. Kawan-kawan melayunya menyebutnya sebagai lubang tanduk. Aku antara yang beruntung memiliki lubang tanduk ini, ujar Toni Lim. Dan Toni Lim sedia menemanku lagi kalau aku mahu. Aku tersenyum puas dalam keletihan dan kami berdua terlena penuh nikmat.
Aku yang terjaga dari lena menoleh Toni Lim di sebelahku. Toni masih lelap tidur. Mungkin keletihan selepas berhempas pulas memenuhi naluri seks kami. Terlihat batang butuh Toni yang terlentok di pangkal pahanya. Batang yang tadinya cukup garang terkulai lesu. Aku usap-usap batang zakarnya yang kembali tertutup kulup. Kelihatan seperti zakar adikku sewaktu dia belum bersunat. Aku ramas lembut dan aku urut manja. Batang putih pucat ini mula memberi tindak balas. Dalam keadaan separuh tegang aku melurut kulit kulup. Terlihat cairan cinta kami yang pekat menempel di bawah kulit kulup dan sekitar takuk kepala zakar. Cairan cinta ini belum cukup pekat bagi membentuk cheese. Aku jilat, kulum dan aku telan. Lemak dan berkrim, sungguh nikmat. Kemudian aku menyedut dan mengulum kulit kulupnya. Aku selinap hujung lidahku ke dalam muncung kulup. Berlama-lama lidahku bermain dalam kelongsong kulup. Aku puas. Idamanku tertunai sudah. Keinginanku menikmati zakar tak bersunat terkabul. Terima kasih Toni Lim.
Share:

Menikmati Amoi

Aku bekerja sebagai pencuci bangunan. Syarikat kami mengkhususkan kepada bangunan tinggi. Pejabat, apartment, kodominium, bangunan bank dan sebagainya yang tinggi-tinggi mendapat khidmat syarikat kami. Aku dan pasukanku ditugaskan mencuci tingkat kaca bangunan-bangunan tersebut. Kami kerap bekerja tujuh hari seminggu kerana bilangan pelanggan kami yang banyak.
Pada hari minggu itu aku ditugaskan mencuci tingkap kaca satu blok kondo mewah. Dengan menggunakan peralatan khas aku akan mencuci tingkap kaca dari bahagian luar bangunan. Seperti biasa aku menjalankan kerja rutin harian. Setiba di sebuah kondo aku melihat melalui tingkap kaca sesosok tubuh terbaring di dalam bilik tidur luas. Tingkap kaca tersebut hanya ditutup dengan kain langsir nipis. Apa yang berada dalam bilik dapat dilihat dengan jelas.
Pagi itu jam ditanganku menunjukkan pukul 10.00 pagi. Terbaring di katil mewah adalah seorang wanita muda yang memakai baju tidur nipis berwarna putih. Aku merapatkan mukaku ke kaca tingkap melihat sesosok tubuh yang terbaring tersebut. Tersirap darahku bila ternampak seorang wanita muda yang putih mulus. Tidurnya nyenyak sekali. Baju tidurnya tersingkap dan menampakkan sepasang paha yang indah dan tundun kemaluan yang ditumbuhi bulu-bulu hitam sederhana lebat. Aku terpana melihat ciptaan indah di hadapanku. Kemaluanku tiba-tiba mengeras di dalam seluar yang kupakai.
Aku menolak tingkap kaca tersebut. Dan tingkap tersebut menggelonsor terbuka tidak berkunci. Seperti kebanyakan kondo di tingkat atas, pemiliknya jarang memasang grill besi. Mungkin mereka menganggapnya tidak menjadi keperluan seperti rumah teres atau rumah di taman perumahan.
Sekarang aku dapat melihat jelas sekujur tubuh yang terbaring tersebut tanpa sebarang halangan. Aku rasa wanita tersebut adalah seorang gadis cina. Amoi tersebut sungguh cantik pada pandangan aku. Dihasut iblis, aku melangkah masuk ke dalam bilik tidur mewah tersebut. Harum bilik tersebut bila air freshner menyemburkan wangiannya. Perlahan-perlahan aku mendekati amoi yang tertidur nyenyak seperti bayi. Kemaluanku makin mengeras melihat kemaluan amoi yang terlentang di tilam empuk.
Pertama kali aku melihat bukit kemaluan indah milik seorang gadis. Bukitnya yang besar putih dihiasi bulu-bulu hitam. Terlihat sepasang bibir merekah warna merah muda. Dengan tangan terketar aku memberanikan diri membuka paha putih mulus tersebut. Sungguh indah rekahan kemaluan amoi muda. Kulihat wajahnya yang cantik. Matanya masih terpejam rapat. Aku bimbang juga kalau-kalau amoi tersebut terjaga dan menjerit. Aku memerhati sekeliling bilik. Terlihat di meja solek setabung pil berwarna putih dan segelas air. Aku pasti amoi tersebut telah menelan pil tidur. Justeru itu tiada sebarang reaksi bila aku merenggangkan sepasang paha indah.
Tidak sabar lagi aku membiarkan sebuah keindahan terhidang sia-sia begitu saja. Aku makin berani. Aku pasti amoi ini tak mudah terjaga akibat pil tidur yang ditelannya. Aku segera mengarahkan wajahku di sela-sela paha si amoi cantik. Amoi yang mengikut perkiraanku berusia awal 20-an ini sungguh mengiurkan. Wajahnya mirip Nasha Aziz. Hidungku kurapatkan ke lurah merkah warna pink. Aku sedut aromanya. Ahh.. sungguh menyelerakan bau kemaluan wanita muda. Begini rupanya bau burit, fikirku. Aku sedut lama-lama bau kemaluan amoi tersebut.
Bila aku melayari laman web lucah di internet, aku sentiasa berangan-angan untuk menghidu bau kemaluan perempuan. Sekarang bau burit amoi menjadi santapan hidungku. Aku menggeserkan batang hidungku ke lurah merkah. Dengan jari-jariku aku renggangkan lagi bibir indah tersebut. Terlihat isi dalam yang lembab. Bau burit makin keras dan sungguh enak. Aku cium sepuas-puasnya. Amoi tersebut tetap tidur dengan nyenyaknya. Tindakanku tidak memberi kesan kepada lenanya.
Puas menghidu aku menjilat pula bibir kemaluan yang indah menarik. Ternganga bagaikan kerang yang terbuka kulit kerasnya. Lidahku menjalari seluruh permukaan bibir kemaluannya. Setiap bukit dan lurah kujilati. Kelentit merah yang menonjol aku nyonyot. Aku jilat sepuas-puasnya isi selangkang amoi sampai bersih. Lidahku bergerak lincah dan lancar di tengah-tengah bibir kemaluannya yang mengairahkan. Dan ketika lidahku membelai dari bawah ke atas hingga tepat ke benjolan kelentitnya, aku menggigit geram. Ada sedikit gerakan. Amoi tersebut seperti mengeliat tapi tidurnya tidak terganggu. Mungkin amoi tersebut sedang bermimpi buritnya sedan diteroka oleh kekasihnya. Terasa di lidahku cairan lendir yang panas. Agaknya amoi tersebut terangsang dengan jilatan-jilatanku di bibir kemaluan dan kelentitnya.
Batang pelirku meronta-ronta di dalam seluar. Pantas aku menarik zip seluarku dan melondeh semua yang aku pakai. Pelirku terhangguk-hangguk menunggu untuk menikmati lubang enak si amoi. Kepala pelirku yang bulat berwarna coklat kehitaman akan menyelam dalam lubang indah warna merah muda. Batangku tidaklah besar sangat. Biasa saja ukuran orang Asia. Terangsang dengan pemandangan indah di hadapanku, air mazi mula keluar di hujung pelirku jernih bagai embun pagi.
Aku tak boleh berlama-lama menikmati amoi cantik di hadapanku. Kerjaku perlu diselesaikan segera. Akhirnya aku melebarkan lagi kangkangan si amoi. Aku celepak diantara kedua pahanya yang melebar. Aku arahkan kepala pelirku rapat ke lubang burit gadis cina. Pertama kali aku bersetubuh. Terketar-ketar aku menekan kepala pelir ke celah kelangkang amoi. Hangat, sungguh hangat. Geli dan nikmat. Sedikit-sedikit kudorong maju. Lubang burit amoi terasa sungguh sempit. Tak pasti samada amoi ini masih gadis atau tidak. Tak kufikir amoi di hadapanku masih dara.
Kesan mazi yang keluar dari pelirku dan lendir dari burit gadis cina ini membuatkan batangku mudah masuk. Sungguhpun ketat tapi tiada halangan batang pelirku terbenam hingga ke pangkal. Aku seperti berada di kayangan. Sungguh enak dan nikmat. Sekujur tubuhku menggigil dan bergetar keenakan. Aku puas kerana mampu melayan seorang wanita. Batang pelirku terbenam penuh bangga dalam lubang burit perempuan muda. Denyutan demi denyutan membuatku semakin tak mampu lagi menahan luapan gelora persetubuhan. Terasa beberapa kali amoi mengemutkan lubang buritnya. Sungguh sedap.
Kerana kenikmatan yang teramat sangat tiap kali aku menyorong tarik batang pelirku, aku makin melajukan gerakanku. Hanya lima minit aku rasa seperti akan terkencing. Aku menekan makin rapat dan terpancutlah air maniku ke dalam lubang burit si amoi. Aku mengerang kesedapan. Aku terjatuh memeluk badan amoi yang lembut. Aku biarkan badanku melekat ke badan si amoi sambil mencium pipinya. Si amoi mengeliat tapi matanya tetap terpejam.
Beberapa ketika kemudian aku bangun keletihan. Batang pelirku penuh dengan lendir dan aku lihat ada cairan putih meleleh keluar dari lubang burit amoi yang telah banjir. Aku mengenakan pakaian dan berjalan perlahan ke luar tingkap dan meneruskan kerjaku yang tertangguh. Indah, pengalaman yang sungguh indah. Aku rasa aku adalah lelaki sebenar. Aku tersenyum...
Share:

Menjamah Tubuh Zaleha

Rahman dan Zaleha telah berkahwin selama dua tahun. Sebelum itu mereka telah bercinta selama empat tahun. Zaleha merupakan bekas guru tadika sebelum menikahi Rahman pada usia 24 tahun dan berasal dari Pasir Mas, Kelantan. Rahman yang kini berusia 36 tahun pula berasal daripada Kuala Lumpur dan bekerja sebagai eksekutif kanan di sebuah syarikat swasta terkemuka.
Rahman jatuh cinta pandang pertama dengan Zaleha semasa dia terlihat gadis itu di tadika tempat anak buahnya belajar. Hari itu dia diminta oleh abangnya untuk mengambil anaknya di tadika tersebut kerana dia mempunyai urusan penting di tempat lain. Jantung Rahman berdegup kencang apabila pertama kali terlihat Zaleha kerana gadis itu mempunyai kesempurnaan Melayu sejati.
Penampilan Zaleha sangat sempurna. Dia berketinggian sederhana. Wajahnya yang bulat itu sangat ayu dan comel. Kulit Zaleha putih dan gebu; manakala setiap lekok di tubuhnya amat sempurna; dia tidak kurus dan tidak gemuk. Buah dadanya mekar membulat bersaiz 34B; punggungnya lebar dan padat; paha dan betis Zaleha juga cantik bentuknya. Rahman terus jatuh cinta.
Setelah dua bulan dia cuba memikat Zaleha, Rahman berjaya menjadikan gadis cantik itu kekasihnya. Walaupun di tadika dia selalu memakai baju kurung atau kebaya dan bertudung, di luar dia seperti gadis belia yang lain; selalu memakai jeans atau skirt. Cinta Rahman pada Zaleha semakin mendalam kerana di samping kecantikannya, Zaleha juga sangat manja.
Kemanjaan dan kecomelan Zaleha itulah yang membuatkan Rahman nekad untuk memiliki Zaleha selama-lamanya. Gadis yang berasal dari kampung seperti Zaleha sukar untuk dimiliki kerana sifat pemalunya (walaupun dia sangat manja). Hanya satu cara untuk memastikan dia memiliki Zaleha iaitu dengan menjamah tubuh suci gadis itu. Zaleha akan pasti menjadi miliknya.
Sepanjang menjadi sepasang kekasih selama empat tahun, Rahman kerap menjamah tubuh ranum Zaleha. Pantang ada peluang maka Zaleha akan diratahnya cukup-cukup. Zaleha mempunyai cipap yang sangat tembam dan lembut; manakala duburnya pula sentiasa kelihatan bersih dan segar. Zaleha takut ditinggalkan Rahman dan dia menyerahkan tubuhnya untuk dinikmati.
Rahman adalah lelaki yang kuat cemburu. Apatah lagi dia mempunyai isteri seperti Zaleha. Bukan dia tak tahu yang rakan-rakannya juga selalu menatap kemantapan tubuh badan Zaleha. Malah seorang rakan baiknya, Azman, terlalu taksub dengan Zaleha sehingga sanggup curi-curi menggoda Zaleha. Rahman dan Azman selalu bergaduh dan akibatnya Zaleha juga selalu dimarahi.
Selama dua tahun berkahwin Zaleha cukup tersiksa dengan sikap Rahman. Dia tak dibenarkan lagi memakai seluar atau jeans kerana bentuk tubuhnya yang montok itu akan kelihatan jelas. Zaleha hanya dibenarkan memakai baju kurung jika keluar rumah. Ada saja punca untuk Rahman memarahi Zaleha. Walaupun begitu, hampir setiap malam dia menikmati tubuh isterinya yang lazat itu.
Sepanjang enam tahun bersama, tubuh Zaleha menjadi semakin mantap dan montok. Tidak ada segi langsung di tubuhnya; semua lekuk tubuhnya bulat-bulat belaka. Di rumah Zaleha akan sentiasa berbogel kerana Rahman mahu menatap kemantapan dan kemontokan badan isterinya. Walaupun tersiksa, Zaleha akan cuba juga memberikan kelazatan tubuhnya kepada suaminya.
Dalam pada itu, Azman yang masih belum putus asa menggoda Zaleha mendapat peluang terbaik. Dia mengambil cuti pada hari itu dan pada pagi itu dia ke rumah Rahman dan Zaleha untuk mengambil peluang. Dari sudut yang tersorok, dia melihat Zaleha mencium tangan Rahman sebelumnya suaminya pergi ke pejabat. Inilah masa yang ditunggu-tunggu oleh Azman.
Sebaik sahaja Rahman berlalu pergi, Azman mematikan enjin kereta lalu berjalan ke rumah itu. Seperti biasa, Zaleha yang hanya memakai baju untuk menghantar Rahman pergi sudah kembali berbogel di rumah. Seperkara yang misteri mengenai Zaleha, walaupun dia pemalu, dia tidak kisah untuk menunjukkan tubuhnya kepada lelaki. Padanya itu bukan satu kesalahan.
Zaleha berpendapat tubuh manusia adalah anugerah Tuhan dan tidak perlu malu untuk didedahkan. Malah ketika Rahman memintanya untuk berbogel pertama kali pun dia menurut saja. Apa salahnya kalau lelaki mahu melihat dan memuji keindahan bentuk tubuhnya. Lagipun bukannya luak. Itulah misteri Zaleha. Dia malu untuk bercakap tapi tak malu untuk berbogel.
Zaleha berlari-lari apabila mendengar pintu rumahnya diketuk. Buah dadanya yang montok dan putih itu melambung-lambung ketika dia berlari. Dalam keadaan telanjang bulat dia membuka pintu lalu mata Azman terbelalak melihat Zaleha yang putih montok berdiri di hadapannya. Azman berpura-pura bertanyakan Rahman lalu Zaleha menjemputnya masuk ke dalam.
Azman dapat menatap dengan jelas kemantapan punggung montok Zaleha yang lebar dan padat itu. Terdapat garis-garis halus selulit yang membayangkan betapa ranum dan subur punggung yang dimiliki Zaleha. Paha dan betis Zaleha juga montok dan gebu. Dia juga terbayang-bayang ketembaman bibir cipap Zaleha yang tidak berbulu semasa membuka pintu tadi.
Zaleha duduk berbogel di sebelah Azman sambil mereka berdua berborak. Azman dengan sengaja menukar topik kepada keadaan rumahtangga Zaleha yang berantakan itu. Zaleha sedih apabila menceritakan betapa dia selalu dimarahi Rahman. Dia mengadu yang dia sudah hampir tidak tahan dengan sikap suaminya yang sangat kuat cemburu itu. Air mata Zaleha mula menitis.
Azman menarik Zaleha ke dadanya lalu mula mengusap rambut wanita comel itu. Dia memujuk Zaleha supaya berhenti menangis dan dia berjanji akan menghilangkan kesedihan Zaleha. Zaleha yang lurus dan manja itu cuma menurut saja. Seketika kemudian Azman membogelkan dirinya sendiri lalu menunjuk zakarnya yang mencanak-canak itu ke muka comel Zaleha.
Zaleha dapat menghidu bau batang zakar Azman. Zakar Azman sangat jantan; dua kali ganda panjang dan gemuk berbanding zakar suaminya, Rahman. Zaleha seperti terpukau dengan kejantanan Azman lalu mula membelai kepanjangan belalai lelaki itu. Telur Azman juga amat besar dan berat. Secara tiba-tiba Zaleha terus menjilat dan menyonyot takuk kepala zakar Azman.
Azman mula mengusap cipap Zaleha yang amat tembam itu. Seumur hidupnya, itulah cipap yang paling tembam pernah dilihatnya. Bentuknya seperti kuih apam dan rasanya sangat lembut. Belalai Azman semakin mencanak untuk melapah kesuburan cipap tembam Zaleha dengan belalai jantannya. Jari-jari Azman semakin berlengas diselaputi oleh lendir cipap Zaleha.
Azman mendukung Zaleha masuk ke dalam bilik dan membaringkan wanita montok itu atas katil. Diangkatnya paha dan betis montok Zaleha lalu dia mengucup dan menjilat lurah pantat wanita itu. Malah dia juga menyonyot ketembaman bibir pantat Zaleha sambil meramas-ramas paha gebu wanita itu. Belalainya yang mencanak dengan nafsu dihalakan ke lurah pantat Zaleha.
Seketika kemudian masuklah belalai Azman ke dalam pantat subur Zaleha. Dengan perlahan dia menjolok sehingga akhirnya keseluruhan batang zakarnya santak ke pangkal. Mereka berdua berpelukan menanggung nikmat yang tak terhingga. Seumur hidup Azman, itulah tubuh yang paling lazat yang pernah dijamahnya. Zaleha juga menggelupur menerima kejantanan Azman.
Azman manjamah badan Zaleha semahu-mahunya. Tak terkata keenakannya apabila pantat yang sungguh tembam itu melekap padat pada belalainya. Cipap Zaleha dirasakan sangat lembut dan ketat. Setiap jolokan Azman disantak dan dilenyek sehingga ke pangkal. Pantat subur Zaleha mengeluarkan lendir yang pekat dan banyak. Mencanak zakar Azman menikmati pantat Zaleha.
Rahman yang sibuk di pejabat tidak tahu ketidakhadiran Azman pada hari itu adalah untuk meratah kelazatan tubuh isterinya. Rahman tidak tahu bahawa isterinya yang comel dan manja itu sedang terkangkang disetubuhi oleh Azman. Dia tidak tahu bahawa isterinya memeluk erat tubuh Azman sambil menadah cipap tembamnya untuk dinikmati. Setengah jam sudah berlalu.
Zaleha kini sudah hampir ke kemuncak zina. Dengan tak semena-mena Zaleha menggelupur kepuasan dibedal Azman. Mata Zaleha terbelalak; mulut Zaleha ternganga dan lidahnya terjelir. Zaleha memeluk Azman dengan erat sambil paha gebunya terkangkang luas dan Azman pula menyantak-nyantak membiarkan Zaleha menikmati kepuasan mengawan dengannya.
Jolokan Azman manjadi semakin padu dan berat. Zaleha menyedari pasangannya juga sudah hampir. Dia memeluk Azman dengan erat sambil meramas-ramas punggung pasangannya. Zaleha memujuk Azman supaya memancutkan air mani ke dalam pantatnya yang ranum dan subur itu. Rahman sudah mula meraung dan menyantak Zaleha dengan amat padat dan dalam.
Seketika kemudian air mani Azman membuak-buak ke dalam lubuk pembiakan Zaleha. Zaleha tersentak menerima semburan-semburan benih bunting Azman. Pantat tembamnya mengemam-ngemam seperti memerah setiap titisan air jantan pasangannya. Azman memancutkan benih anaknya dengan semahu-mahunya ke dalam telaga bunting Zaleha yang sangat matang itu.
Azman merangkul tubuh montok Zaleha seerat-eratnya dan setiap kali dia menyantak setiap kali itulah benih jantannya membuak pekat ke dalam rahim betina Zaleha. Zaleha juga memeluk jantannya erat sambil memujuk "Pancut puas-puas Man... Penuhkan telaga bunting I... Ada banyak lagi benih Man... Pancutkan semua dalam rahim betina I Man..."
Tatkala pasangan betinanya memujuk pancutan maninya dan memerah kejantanannya dengan bibir cipapnya yang tembam itu, Azman mencungap dan menggeletek akibat kenikmatan yang melampau. Takuk kepala zakarnya mengembang besar ketika meledakkan benih bunting dengan semahu-mahunya ke dalam tubuh betina yang sedang dibuntingkannya itu.
Saat itu tubuh Zaleha bukan lagi milik Rahman. Ketika itu Rahman tidak menyedari bahawa tubuh isterinya sudah dipancutkan dengan benih bunting lelaki lain. Tubuh montok Zaleha sudah menjadi milik Azman sepenuhnya. Berbelas das air mani yang dipancutkan dengan deras oleh Azman sangat pekat dan putih; yang sudah pasti akan membuntingkan wanita sesubur Zaleha.
Zaleha menitiskan air mata apabila zakar Azman tidak lagi mampu memancutkan air mani. Tamatlah sudah alam perkahwinannya dengan Rahman. Pancutan air bunting Azman ke dalam tubuh lazatnya menandakan bahawa dia sudah dimiliki oleh Azman. Azman membelai wajah Zaleha yang baru saja dibuntingkannya. Mereka berdua tertidur dalam keadaan berpelukan dan berbogel.
Di dalam kesuraman bilik yang berhawa dingin itu kelihatan sepasang manusia tertidur kerana keletihan setelah berhempas pulas mengawan. Azman memeluk Zaleha secara mengiring daripada belakang; zakarnya masih berada di dalam cipap tembam Zaleha manakala tangannya melekap pada buah dada Zaleha yang ranum itu. Kedua-dua alat pembiakan itu kelihatan melekit-lekit dengan air mani dan lendir pantat.
Belalai Azman telah menyemburkan berjuta-juta sperma yang sihat dan subur ke dalam lubuk bunting Zaleha. Kesuburan dan ketembaman cipap Zaleha telah membuatkan kejantanan Azman memancut dengan banyak dan deras. Zakar bertuah Azman tidak pernah dirangsang semaksimum itu selama ini. Belalainya tersantak padat ketika takuk kepala zakarnya meledakkan benih-benih jantan ke dalam lubuk betina Zaleha.
Zaleha kini dimiliki oleh Azman. Di atas kertas dia masih lagi isteri Rahman tetapi secara fizikalnya dia telah dibuntingkan dengan benih Azman. Tatkala air bunting Azman membuak-buak dengan pekat dan deras ke dalam lubuk pembiakannya, jiwa dan raga Zaleha telah bertukar pemilik. Senyuman terukir di wajah Azman yang telah berjaya menikmati kelazatan tubuh montok Zaleha. Dia akan menjamah Zaleha sekerap mungkin.
Apabila Azman terjaga, dia melihat Zaleha masih lagi lena. Cantik sungguh betina yang baru diratahnya tadi. Ranum sungguh tubuh yang dijamahnya tadi. Matanya tertumpu ke arah ketembaman cipap muda Zaleha yang menjadi santapan zakarnya tadi. Dia melihat air mani meleleh keluar daripada pantat yang lembut dan subur itu. Selama ini dia tak pernah memancut sebanyak itu. Zaleha pasti memboyot membuntingkan anak Azman.
Zakarnya kembali mencanak. Gadis sesubur Zaleha pasti bunting walaupun setitik air mani ditaburkan ke dalam pantatnya namun Azman mahu lebih kepastian. Tubuh montok Zaleha ditiarapkan dan punggung montoknya ditonggengkan. Sambil memeluk Zaleha, Azman kembali menyantak cipap Zaleha dari belakang. Zaleha menggelupur lalu Azman memaut tubuh betina itu dengan lebih erat sambil menggigit rakus tengkuk Zaleha.
Bontot montok dan pantat tembam Zaleha dilanyak tanpa belas. Azman mahukan kepastian bahawa Zaleha akan bunting. Sambil menyodok bontot Zaleha dia merapatkan kedua belah paha yang gebu itu. Belalainya menyula cipap tembam Zaleha sehingga terbit lendir pantat yang banyak. Dalam keadaan Zaleha yang melentik menonggeng itu Azman menyantak sepadat mungkin lalu memancutkan benih semahu-mahunya ke dalam bontot Zaleha.
Azman meraung sekuat hati tatkala kepekatan air jantannya menyembur ke segenap ruang di lubuk pembiakan Zaleha yang sangat subur itu. Seluruh kawasan perumahan itu boleh mendengar raungan si jantan yang sedang membuntingkan betinanya. Mencanak-canak zakarnya memancutkan benih subur jauh ke dalam rahim betina Zaleha. Bontot lebar Zaleha menadah air bunting Azman yang menyembur ke dalam tubuhnya.
Zaleha memujuk pancutan benih jantan Azman "Oh... Banyaknya benih Man... Pancut puas-puas, pekat-pekat dalam rahim betina I Man... Lagi Man... Pancut lagi!!!" Crot! Crot! Crot! Crot! Azman pula meraung "Oh Leha... Suburnya lubuk betina Leha... Oh... Punggung Leha lemak padat buat I terpancut-pancut! Nah benih I! Nah!" Zaleha menyambut "Man jantan I, I betina Man... Mengawanlah dengan betina Man sampai dia bunting!"
Zaleha menyerah bontotnya yang lebar dan padat itu untuk menadah pancutan benih bunting Azman. Azman makin menggila memancut apabila bontot Zaleha yang berlemak dan berisi itu mengembang dan mengepit belalai jantan Azman. "Nah! Nikmatilah lemak bontot I Man... Pancutkan anak Man puas-puas! Nah!" Raung Zaleha sambil menonggekkan bontotnya. "Oh Leha... Lazatnya lemak bontot subur Leha!!!" Crot! Crot! Crot! Crot!
Zaleha yang telah tewas terus mengemam-ngemam bibir tembam cipapnya demi memerah setiap pancutan air jantan keluar dari belalai Azman. Azman yang masih lagi menggigit tengkuk Zaleha menyantak padat setiap kali zakarnya menyemburkan air mani ke dalam tubuh subur pasangan mengawannya itu. Zaleha kembali terlena namun Azman terus membelai wajah pasangannya yang sangat ayu dan comel.
Azman mengucup bibir sambil mengusap pantat Zaleha membuatkan gadis montok itu terjaga dari lenanya. Zaleha tersenyum menatap wajah lelaki yang baru selesai membuntingkannya. Dia meminta Azman membawanya pulang kerana dia kini milik lelaki itu. Azman mendukung tubuh montok Zaleha dalam keadaan bogel dan membawa betina subur itu ke keretanya. Buat sementara waktu ini Zaleha akan dibela di hotel.
Dalam seminggu, Azman menikmati lauk badan sedap Zaleha selama empat hari. Hari selebihnya dia menjamah tubuh isterinya pula. Tubuh Zaleha dimanja dan dijaga dengan rapi oleh Azman. Setiap kali selepas mandi Azman sendiri akan menyapu pelbagai jenis krim ke tubuh ranum itu, terutama pada cipap tembam Zaleha. Rahman pula kini sudah hampir gila akibat kehilangan Zaleha yang kini sudah dua bulan hilang.
Hari demi hari perut Zaleha semakin memboyot. Kejantanan Azman telah terbukti kerana berjaya membuntingkan Zaleha pada pertama kali pembenihan. Akibat pembuntingan itu, tubuh Zaleha semakin montok; bontot dan paha Zaleha semakin lebar dan berisi, manakala cipap subur Zaleha semakin menembam. Tidak sia-sia Azman merampas Zaleha daripada Rahman. Zakar bertuah Azman telah berjaya menewaskan Zaleha.
Bertuah mana-mana lelaki yang dapat menjamah badan Zaleha. Melihat ketembaman bibir cipapnya saja sudah mampu membuatkan mana-mana zakar mencanak-canak. Inikan pula dapat menyantak dan memancut ke dalam lubuk pembiakan atau saluran najis betina yang sangat ranum dan subur itu. Sesiapa pun pasti akan memancut dalam pantat atau dubur apabila merasai kelazatan tubuh Zaleha. Azman adalah lelaki yang paling bertuah
Share:

Menyetubuhi Adik Angkatku

Ini adalah cerita bagaimana bermulanya kehidupan aku sebagai seorang lelaki yang hobinya melakukan hubungan seks. Pada masa itu, aku mempunyai seorang adik angkat yang bernama Abby (masih kekal sampai sekarang). Personaliti dia yang sosial membuatkan dia menjadi sasaran yang sempurna untuk menjadi teman tidur aku di Sarawak. Muka dia ni biasa sahaja tetapi dia mempunyai 3 kelebihan yaitu susuk badan yang mantap alaala Cameron diaz, kulit yang putih kemerahan, dan bibir yang sangaatt seksi.
Apabila dia bercakap, aku seringkali mengambil kesempatan melihat dua ulas bibir nya yang berwarna pink dan tampak sentiasa kebasahan gitu sambil berangan2 alangkah indahnya jika boleh merasa bibir yang menawan itu dengan bibirku, dan bertambah indah lagi andainya bibir itu mengulum lembut batang pelirku yang keras.. Aku tak boleh berangan-angan aje, aku mesti bertindak.. Aku pun mengaturkan satu rancangan.
Pada tanggal 31 Ogos 20XX, aku mengajak Abby dan kawan-kawan perempuannya berkelah di Pantai Damai dengan 3 orang kawan aku. Sengaja aku ajak picnic agar aku boleh menunjukkan susuk badan aku yang takde laa tough sangat tapi agak seksi jugak ni pada Abby. Lagipun, agar Abby lebih cepat letih dan mengantuk pada malamnya kang. Sewaktu kami bermandimanda, aku cukup geram melihatkan dua buah dadanya yang cukup berisi di sebalik bajunya yang basah.
Pada malamnya, kami menempah dua buah bilik di hotel Harbour View, satu untuk lelaki dan satu untuk perempuan. Ini semua sebagai cover je.. Time tu, baru pukul 10 malam, so member2 aku ngan member2 Abby pun bercadang pergi ke pub untuk berhibur. Tapi aku memberikan alasan aku nak check tengok keadaan bilik dengan Abby, lepas tu nanti jumpa kat sana. Abby mengikut aja..
Bilik 128, aku masuk ngan Abby dan aku buat tengok-tengok fasiliti yang ada, manakala Abby bukak TV lalu duduk di atas katil.
“Emm.. Ok laa enggak hotel ni, semua ada..” kata aku.
“Aah, ok je..” balas Abby plak
“Aduh.. Letih laa hari nie kan..” keluh aku sambil membaringkan badan aku di sebelah Abby dengan kaki aku berjuntai di kaki katil.
“Abby taknak baring kejap ke?” umpan aku..
“Emm.. Letih enggak ye..” kata Abby sambil baring lalu menggeliat kecil, membuatkan breast nya tampak menonjol sekali.. Aku tak tahan lagi, maka aku pun bingkas bangun dengan bertongkatkan siku kiri aku lalu memandang ikan yang termakan umpan aku ni sambil membayangkan keenakan rasanya yang bakal aku nikmati sekejap lagi.
“Kenapa tengok orang camtu?” tanya Abby..
“Abby pernah kissing tak?” tanya aku.
“Tak..” jawab Abby perlahan.. Mukanya dan blushing.. Cute betul melihat mukanya putih kemerahan-merahan..
“Kita try nak..” umpan aku lagi.. Sambil mendekatkan muka dan badan aku ke arahnya..
“Taknak laa..” jawab Abby sambil cuba menahan dada aku dengan tangannya
“Alaa.. Kiss je..” pujuk aku lagi sambil terus merapatkan lagi badan aku ke badannya perlahan-lahan..
“Taknak laa..” kata Abby lagi..
Walaupun kata taknak tapi tangannya tak lagi menahan dada aku tapi cuma sekadar menyentuh lembut je.. Aku pun tak lepas peluang terus menghalakan bibirku ke bibirnya yang munggil dan separuh terbuka itu lalu mengucup bibir pinknya yang sangat lembut itu. Aku dapat merasakan kenikmatan yang amat sangat, lalu terus mengucup dengan lebih rakus. Aku juga dapat merasai nafas Abby yang lembut dan hangat. Makin lama, nafas Abby dan nafas aku makin tak keruan. Kami terus balas membalas ciuman dengan penuh ghairah. Batang pelir aku semakin mengeras di dalam seluarku.
Aku tak sedar apa yang terjadi, tapi tiba-tiba je kaki kami dalam kedudukan melakukan seks dengan aku berada di tengah manakala kaki Abby sedikit terkangkang. Lalu aku pun menggerakkan punai aku seperti keadaan fucking. Aku menggesel-geselkan kote aku yang tegang itu ke arah cipap Abby. Aku tengok Abby memang sudah stim giller dengan matanya terpejam dan tangannya meraba-raba badan aku dengan bernafsu sekali. Nafasnya semakin kencang sekarang dan dadanya berombak-ombak maka aku pun memulakan Step yang ke-2 yaitu payudara nya laa..
“Abang pegang breast Abby yek..” tanya aku
“Jangan laa..” kata Abby lembut.
Ah.. Aku tak kira, aku pegang enggak breast kiri dia dengan tangan kanan aku. Lembut betul.. Aku ramas dengan lembut sambil terus mencium-cium bibir nya.. Makin lama, breastnya makin mengeras dan padat, aku tukar ramas breast kanan dia plak sambil terus menikmati bibir nya.. Bila tetek sudah padat sangat aku menghentikan ciuman di bibir lalu memulakan ciuman di breastnya..
Aku menggigit kecil di bahagian tengah yang aku agak puting nya berada, bosan dengan halangan bajunya, aku lantas mengangkat bajunya ke atas, maka tersembul laa dua buah gunung putih yang berbalutkan coli berwarna putih. Perut Abby sungguh putih bersih sekali. Aku pun mula meremas-remas teteknya dan mengigit puting yang masih beralaskan colinya.. Sungguh seronok sekali melihat pemandangan yang amat menakjubkan tu. Tapi pasti nya lebih seronok melihat gunung itu jika tiada apa apa halangan maka aku pun mencari2 pin untuk membuka coli di belakang Abby, Abby nampaknya sudi kerana dia membalikkan sedikit badannya ke kanan agar aku senang membukanya..
Nah.. Satu pemandangan yang amat indah sekali. Sukar untuk dilafazkan dengan kata-kata.. Aku tak membuang masa lalu mula meremas-remas kedua buah gunung putih itu. Putting nya yang berwarna pink itu aku main-mainkan dengan jari telunjuk aku dengan melakukan pusaran di sekelilingnya. Lepas tu, aku gentel-gentel, dan aku tarik-tarik..
Ah.. Abby mengerang kenikmatan.. Tapi perlahan aja, sebab dia masih malu dengan aku. Aku jilat puting nya, kemudian aku gigit sampai puas. Merah-merah breast dia aku kerjakan.. Ahh.. Ahh.. Seronok btul.. Mendengar erangan dia yang semakin kerap.
Puas hati dengan step ke-2 aku memulakan step ketiga iaitu cipap nya.. Aku terus membuka zip seluar jeans levi’s nya. Zruup.. Lalu, terserlah lah underwear putihnya yang sudah bsah kuyup kat bahagian bawah sampai sudah nampak jelas pussy nya.. Aku rasa dia sudah klimaks sekali time aku kerjakan payudara dia.. Aku pun menarik keluar seluar jeans Abby.. Abby pun turut berkerjasama dengan bangun sedikit untuk memudahkan kerja aku. Peha dia, fuuh.. Putih betul.. Aku pun meraba-raba pahanya yang lembut tu.. Bila aku nak bukak underwear Abby, tangan nya tiba-tiba menahan bahagian atas underwear dia..
“Jangan laa bang, sudah laa tu..” Rayu Abby.
Aisey, camne ni, takkan dia sudah insaf kot.. Alaa.. Dari tadi kata jangan2 tapi bagi enggak, aku pun tak peduli jugak, aku taknak laa bukak kasar so aku pun, selak laa bahagian bawah dia lalu terus menjilat2 alur nya yang memang sudah lencun giler..
“Ahh..” erang aby lagi.. Dia sudah tak tahan nampaknya, lalu tangannya memegang kepala aku seperti menyuruh aku membenamkan lagi lidah aku ke dalam alurnya..
“Jilat aje ye bang, tapi jangan sampai masuk anu abang yek..” kata Abby lalu baring kembali ke katil
“Emm..” Aku sekadar jawab emm je, emm tak semestinya bermaksuk ya kan? No way!! Aku takkan lepaskan peluang keemasan ni.. I’ll never waste this opportunity..
Aku pun menyambung meratah cipap dia.. Dinding kanan, dinding kiri, atas, bawah, semua aku servis.. Time kat bahagian atas, aku terjumpa kelentit dia. Aku pun membelasah sepuas-puasnya.. Biji kelentitnya aku hisap, aku jilat semahunya. Cipap Abby mulai basah aku terus jilat dan hisap sambil tangan menggentelgentel puting teteknya. Tiba-tiba, sedang tengah sedap menjilat, Abby meraung dengan tubuhnya terangkat. Serentak dengan itu juga habis mulutku basah dengan simbahan air dari dalam cipapnya. Aku mengambil kesempatan ini untuk merasa air madu cipap seorang wanita buat pertama kalinya.. Rasanya agak payau, masin pun ada. Aku agak itulah pancutan klimaks Abby..
“Ahh.. Ah.. Ah..” erangan lembut Abby membakar semangat aku.
Aku teruskan servis aku. Kali ini dengan tangan telunjuk aku memasuki pussy Abby.. Aku tak boleh masuk dalam sangat sebab ada daging lembut yang menjadi halangan.. Selaput dara, so aku still memain kat area luar je.. Sekali sekala aku meraba-raba peha dan teteknya.. Kelentitnya aku mainkan, aku gentelkan hinggakan suara yang dilepaskan kali ini agak kuat dengan badan terangkat kekejangan.
Aku tak boleh buang masa lagi, aku pun mula membuka seluar aku. Ting!! tercacak keluar laa tiang bendera aku yang berukuran 7 inci ni..
Aku pun memasukkan kepala pelir aku ke dalam sampai menyentuh selaput dara Abby.. Aku main2 kat situ dengan gentleman dulu agar pelir aku biasa dengan keadaan kat dalam.. Bila sudah biasa, aku pun memulakan proses perasmian pemecahan dara adik angkat aku dengan menyorongkan senjata aku ke dalam lagi.. Sekali hentak, terasa ada halangan.. Hentakan kedua, aku berjaya memecahkannya..
“Aaahh..” erang Abby, entahkan sakit entahkan seronok.. Aku pun takde masa untuk memastikannya kerana aku sendiri sedang sibuk menikmati satu kenikmatan yang amat sangat.. Sebaik sahaja pintu syurga kenikmatan itu terbuka, aku pun tekankan batang aku sampai ke pangkal kemaluannya..
“Aghh.. Emm.. Ahh..” jerit Abby lagi..
Aku berhenti sekejap, sebab terasa macam nak terpancut sangat sudah. Aku mencium leher dan mulutnya berulang kali. Bila keadaan sudah agak OK, aku mula mendayung, atas bawah.. Slow and steady. Kote aku menerjah masuk dan keluar, kemudian memainkannya ke atas dan ke bawah.. Naik dan turun.. Berulang kali. Kenikmatan pada waktu itu adalah sangat best, sukar nak diungkapkan dengan kata-kata.. Sememangnya syurga duniawi..
Aku sorong tarik kemaluan aku dengan diiringi suara mengerang yang agak kuat sambil melihat panorama di bawah, indah, cukup indah melihatkan kote masuk dan keluar dari lubang cipap, dengan bunyi yang cukup menawan Abby memeluk erat pinggangku semasa berdayung, punggungnya bergerak atas bawah mengikuti rentak dayungan.
Terasa kenikmatan yang tiada tolok bandingnya. Aku lajukan dayungan, makin laju dengan suara yang makin kuat, dan aku rasa macam sudah nak terkeluar aku lajukan lagi dan sekuatkuat hati aku tusukkan sedalam yang boleh ke dasar lubang cipapnya diikuti dengan jeritan Abby yang nyaring, terpancutlah air mani aku jauh ke dasar cipapnya. Ahh.. Aku sungguh puas hati dengan hasil lumayan aku itu..
Lepas klimaks sekali, aku rilek dulu sambil meneroka segenap tubuh badan Abby sepuas2 nya.. Lebih kurang 5 lepas tu, aku suruh adik angkatku tu blowjob konek aku sampai keras.. sudah keras, aku balun lagi cipap dia.. Second time ni, lagi lama aku tahan.. Malam tu aku main 4 round.. Best siott..
Banyak lagi cerita nak aku ceritakan tapi lain kali laa plak ye, ada cerita pasal masa aku main guna gambir sarawak, buat kat tangga, layan pil, dan sebagainya.
Share:

Nor dan Jaafar (Skandal Suam Isteri) Part 2

“Hello abang.oh on the way..ye ye kejap lagi Nor sampai”
Ramai penumpang yang mamar bangun dari tidur masing-masing. Satu perjalanan yang selamat. Nor sekali lagi membetulkan tudung dan pakaiannya lalu bangun dari tempat duduknya. Dia sempat menoleh ke belakang lalu melontarkan senyum kepada dua penompang dibelakangnya. Mereka membalas balik dengan senyuman.
“Abang” Nor mencium pipi suaminya Jaafar lalu menyerahkan beg pakainnya. “Nor nak ke bilik air sekejap” dan terus belalu. Di bilik air Nor mencuci dirinya sebaik mungkin.Banyak lagi air mani di dalam cipapnya lalu dikeringkan dengan tisu. Setelah semuanya sempurna, Nor keluar bilik air dan mendapatkan suaminya. Tiba-tiba hatinya berdetak apabila melihat suaminya sedang berbual dengan dua jirannya di atas bas tadi.
“Ini abang kenalkan, rakan perniagaan abang, En Siva dan En. Raja” mereka juga agak tergamam seketika namun masih dapat melontarkan senyum dan bersalam dengan Nor.
“Apa khabar” tegur Nor.
“Mereka ni sebenarnya bahagian jualan dan beribu pejabat di Penang. Kami akan ada meeting di sini dua tiga hari sebab tu mereka terus ke sini dari tempat sayang, mereka sedang buat ‘sale’ kat sana” Jaafar menghurai panjang.
Nor cuma menganggukkan kepala.
“Kau orang akan menginap di mana?” tanya Jaafar.
“Belum ada tempat lah Par” Jawab Siva yang tinggi. Raja setakat mengelengkan kepala.
“Apa kata kau tinggal saja kat rumah aku untuk dua hari ni, jimat sikit kos kau tu” Cadang Jaafar. Nor hampir terbatuk. Nemun dia terus mengukirkan senyum.
Dalam perjalanan masing-masing diam. Nor keletihan tertidur sebentar, dia dikejutkan oleh Jaafar apabila sampai ke rumah. Jaafar menunjukkan bilik untuk tetamunya.
Sedang Siva dan Raja bersiap untuk tidur, telinganya mula menangkap suara Nor yang mengerang dan suara irama seksual dari bilik rakannya.
“Boleh tahan juga isteri Jaafar tu” Komen Siva
“Apasal kau berkenan ke?” tanya Raja
“Bukan gitu, kalau boleh aku nak lagi.. kau dengar kawan kita tu.”sambung Siva
“Ala dapatlah nanti .jom kita tidur dulu..esok nak meeting..dia orang nak kita punya report pasal sale di Pantai Timur”
Mereka terlelap dengan ulikan suara Nor yang mengerang disetubuhi suaminya.
Paginya Nor menghidang sarapan untuk suami dan tetamunya. Dia hanya berbaju kelawar saja.
“Siva kau lena tak tidur pagi tadi?” tanya Jaafar.
“Kurang lah sikit Jaafar, ada gangguan”
“Hah gangguan apa pulak?” tanya Jaafar.
“Ada bunyilah Jaafar rumah kau ni” Jawab Raja.
“Bunyi apa tu” Tanya Jaafar lagi. Nor menuangkan kopi lalu duduk disebelah suaminya.
“Ala bunyi dari bilik kau lah, Siva ni mana boleh tahan benda-benda macam tu” ulas Raja.
Jaafar gelak. “Sorilah Siva, Nor dah tiga malam balik ke rumah emaknya,dah tiga malamlah aku tak dapat, jadi bila dapat tu aku lepaskanlah gian aku tu” Siva dan Raja turut gelak. Nor hanya senyum saja. Mukanya yang putih menjadi merah.
“Sebenarnya bukan saya sorang saja yang tak dapat tidur, Raja pun sama asyik gelisah saja” Ulas Siva. Semua gelak.
“Aku kenal benar kau orang ni, kalau tak dapat perempuan susah lah sikit nak tidur” Ulas Jaafar.
“Kau pun apa kurangnya” balas Raja. “Kitakan dah kawan lama”.
Nor mengantar mereka hingga ke pintu. Dalam sibuk setiap orang melangkah keluar Siva sempat lagi menepuk perlahan ponggong Nor dibelakang Jaafar. Nor cuma senyum saja. Nor mengambil peluang untuk berehat semasa pemergian Jaafar ke pejabat.
Nor merenung ke kipas syiling yang berputar. Dia cuba nak melelapkan mata. Sepatutnya dia ke rumah emak metuanya untuk ambil anak-anaknya yang berusia 3 dan 4 tahun tu iaitu Nazim dan Niza. Tapi letih perjalanan dan tidak cukup tidur membuatkan Nor mengambil keputusan untuk tidur saja dulu. Fikirannya melayang memilikirkan Mak Su Jah adik maknya. Mulutnya tersengeh memikirkan bagaimana nanti kalau abang Jaafar dapat menikmati tubuh Mak Su. Memang abang Jaafar sudah beberapa kali menyebut akan kemontokan tubuh mak su dan amat kepingin untuk menikmatinya.
Namun abahnya dan merasai tubuh Mak Su terlebih dahulu. Memikirkan tentang Pak Akup abah tirinyanya , sekali lagi Nor tersengeh. Sempat juga dia mencelup balaknya yang keras di dalam cipap Nor selepas balik dari Pejabat Tanah tengahhari tu.
Ketika tu Nor bari saja bertukar pakaian , membuka pakaian yang dipakainya ke Pejabat Tanah dan berkemban, ketika itulah abah ketuk pintunya dan terus membuka.
“Abah nak apa?” Tanya Nor.
Pak Akup terus sahaja membuka kain pelekat yang dipakainya dan berbogel. Tangannya mula memegang balaknya yang besar dan tegang.
Nor fahan sangat.
“Kan tadi mak dah bagi”
“Abah nak Nor punya” jelas Pak Akup.
Nor melepaskan kain yang dipakainya lalu duduk di katil. Pak Akup mendekati Nor. Tangan Nor terus merocoh balak Pak Akup perlahan-lahan.
“Mak mana Bah?” tanya Nor.
“Mak ke rumah Mak Su Jah, beli tapai beras untuk Nor bawa balik ke rumah nanti” Jawab Pak Akup.
“Dah keras betul ni Bah” Ulas Nor.

“Nor kangkang, abah nak jilat dulu” jawab Pak akup. Nor bergerak ke tengah katil lalu mengangkang. Pak Akup terus sahaja menyembamkan mukanya ke cipap Nor mencium aromanya dan mula menjilat.
“Uhhh! Abahhhh!!!” keluh Nor.
Pak Akup tidak menjilat lama sangat tetapi terus sahaja menyorong balaknya ke dalam cipap Nor dengan penuh semangat sehingga Nor pancut beberapa kali. Ketika Pak Akup menunjah dengan tunjahan keramatnya untuk mencapai puncak ketika itulah mak masuk, Nor melihat mak dengan menggetap bibir. Mak duduk disebelah Nor sambail memegang tangan Nor. Mata Nor terbeliak ketika Pak Akup memancutkan air maninya ke dalam rahimnya.
“Abahhhh!!!!!”
***
Ketika dalam perjalanan ke pejabat Jaafar berbual pasal banyak perkara namun akhirnya sampai ke tahap seksual juga.
“Pa pagi tadi berapa kali kau balun isteri kau?”Tanya Siva
“dua kali saja” jawab Jaafar pendek.
“Aku tak sangka bini kau banyak seksi” Ulas Raja.
Jaafar sengeh saja” Kenapa kau minat ke?” soalan cepumas terkeluar dari mulut Jaafar.
“Eh engkau ni, mana boleh tarak minat, bodohlah kalau tarak minat orang macam isteri kau tu”Jawap Raja lagi.
Jaafar sengeh lagi. “Nantilah aku fikirkan, lepas meeting kita cerita .OK?”
Hari itu Nor betul-betul merehatkan badannya yang sememangnya tidak cukup tidur. Dia bangun hampir jam 2 petang apabila dikejutkan oleh panggilan telefon daripada Jaafar.
“Sayang buat apa?” tanya Jaafar.
“Tidurlah bang. Nor tak cukup tidur malam tadi” jawabnya manja.
“Sorrylah sebab abang ganggu Nor tidur”
“Tak apa bang Nor dah jaga pun” sambil bangun bersandar ke katil.
“Harap Nor dah cergas selepas rehat tu”
“Kenapa ..emmm rasa semacam saja dalam ayat abang tu?” Nor dapat merasai sesuatu maksud tersirat dalam ayat suaminya itu.
Jaafar tergelak dengan pertanyaan isterinya.
“Abang tahu isteri abang bijak” puji Jaafar lagi. Nor dapat merasakan yang suaminya tentu ada sesuatu perancangan yang hendak disampaikannya.
“tak de apa, nanti malam sayang masak kita makan malam sama-sama, jangan beli daging sebab Siva dan Raja tak makan, ayam OK dia orangtu bedal je”
Setelah mandi, Nor bergegas ke dapur mula meyediakan bahan masakan untuk makan malam.
Selepas menghidangkan kopi Nor masuk menidurkan anak-anaknya Niza dan Nazim. Niza berumur lima tahun dan Nazim berumur tiga tahun. Jaafar berbual dengan dua rakannya sambil minum dan menonton. Nor dapat mendengar suara mereka berbual dan dia tak kisah pun cuma melayan keletah anaknya yang masih banyak persoalan mengenai datuk dan nenek mereka di kampung. Setelah anak-anak tidur, Nor keluar ke ruang tamu.
“dah tidur dia orang?” tanya Jaafar.
“Dah bang” jawab Nor sambil menuangkan kopi untuk dirinya pula. Setelah berbual beberapa ketika Jaafar bangun dan menarik tangan Nor untuk masuk kebilik.
“Jom sayang kita pulak masuk tidur” ajaknya.
“Eh abang ni, tu kan dia orang belum tidur lagi” jawab Nor.
“Tarak apa, you ngantuk masuk tidur saja, kami masih mahu nonton tv ni” jawab Raja.
Jaafar terus sahaja menarik tangan Nor ke dalam bilik.
“Gelojohlah abang ni” apabila dia dipeluk dan dikucup oleh suaminya sebaik sahaja mereka masuk ke bilik. Jaafar menutup pintu tanpa penguncinya dari dalam. Dia terus sahaja menerkan ke arah Nor dan membogelkan tubuh Nor dan dirinya sendiri.
“Abang!!! kawan abang kan ada kat luar tu.”Sambil membetulkan kedudukannya di tengah katil.
Jaafar terus sahaja bertiarap ke atas tubuh Nor. “Pedulikan mereka, abang inginkan sayang dari petang tadi lagi”
Nor ketawa perlahan “Gelojohlah abang ni..Ohhhh emmmmmm!!!!!” keluhnya apabila balak suaminya mula meneroka ke dalam cipapnya.
“Perlahanlah dulu..auuu!! sakit Nor tau..abang punya tu bukan kecil” komen Nor.
Jaafar mengambil tempo yang sesuai sehingga Nor merasa selesa dan mula mengeluh oooh dan ahhh.
Jaafar dapat mengawal dirinya dengan baik sehingga Nor tidak pedulikan sesiapa lagi. Suaranya makin meninggi dan melupakan dirinya kepada tetamu yang saling senyum antara satu sama lain.
Setelah berjuang hampir setengah jam Jaafar manamatkan permainan dengan tujahan padu yang membawa mereka berdua ke kemuncak nikmat yang tidak terkata lagi. Nor memeluk erat tubuh suaminya sambil menikmati pancutan terakhir yang dilepaskan oleh suaminya ke dalam rahimnya. Bilik berhawa dingin tidak cukup untuk menghalang badan mereka berdua daripada dibasahi peluh.
Jaafar terus membelai isterinya sehingga balaknya tidak cukup keras lagi untuk berada di dalam cipap isterinya lalu terkeluar dengan sendiri.
Jaafar bangkit bagai inginkan ke bilik air. Nor dalam kelelahan terus terlentang dan terkangkang. Ketika matanya terpejam Nor terdengar bunyi pintu bilik terbuka. Perlahan-lahan dia membuka matanya dan didapati Siva yang telah bertelanjang bulat sudah pun merapatkan mulutnya menjilat buah dadanya.
“Siva!”Nor terkejut, dia melihat suaminya senyum duduk di kerusi mekapnya. ”Abang!!”Suara Nor meninggi.
“Ala Nor bagilah kat dia orang” terdengar suara suaminya.
Nor sedar bahawa ini tentu telah dirancang lebih awal oleh suaminya. Tangannya mula meraba balak Siva yang masih duduk disebelahnya.Dipegang dan dirocohnya beberapa kali sehingga kulupnya menyerlahkan kepala balak yang hitam dan berkilat.
Jaafar bangun lalu keluar bilik.
“Enjoy yourselve Siva” terdengar suara Jaafar.
“I will” Jawan Siva.
Nor senyum memandang muka Siva yang merenungnya.”Awak bertiga rancang semua ni ye?”
Tangan Siva meramas buah dada Nor yang bulat. “Kami minta elok-elok dengan Jaafarlah” jawab Siva.
“suami saya baik hati.bini dia pun dia kasi kepada kawan-kawan dia” ulas Nor sambil tangannya terus membelai balak Siva “Awak dak keras ni”
Siva bangkit lalu menganbil kedudukan di antara paha Nor. Nor mengangkat pahanya sambil memandu kepala balak Siva ke kemaluannya. Siva menekan balaknya tenggelam sampai ke pangkal.
“Augh!” terkeluar dari tekak Nor apabila kepala balak Siva menyentuh batu meryamnya.“Awak punya panjang.”
Siva cuma senyum dan memulakan hayunan keluar masuk dengan tempo agak perlahan.
“Ahhh emmph!!” Nor memegang erat lengan Siva yang bertongkat di kiri kanan kepalanya. Belakang Siva mula menitiskan peluh sehingga mengalir masuk ke celah ponggongnya yang pejal.
“Aghh!!” jerit Nor meninggi menandakan dia klimeks.Siva berehat seketika lalu meminta Nor menonggeng. Nor akur mengubah kedudukannya dan Siva mendatanginya dari belakang. Siva meramas buah dadanya dari belakang. Nor sekali lagi klimeks, tangannya meramas cadar dan bantal.
“Ahhhhhh!!!!!Oh!Oh!” keluh Nor.
Nor rebah, Siva memusingkan badan Nor terlentang semula. Nor memegang balak Siva yang masih utuh dan keras serta berlendir. Di bawanya balak itu ke cipapnya. Siva menekan santak sampai ke pangkal lagi.
“Ugh!” Keluh Nor.
“Sudahkan.please!” pinta Nor. Siva menghayun laju. Nor menjerit kuat” Aaaaaagh!!!!!!”
“Huuuuuuahhhh!!!!!”Siva pancut. Nor menggelupur. Masing-masing kelelahan.
Di ruang tamu Jaafar dan Raja sedang menonton saling berpandangan apabila mendengar suara Nor dan Siva yang nyaring.
“Aku rasa Siva dan pancut tu” kata Jaafar kepada Raja.
Raja senyum, dia membuka bajunya menunjukkan dadanya yang bidang dengan bulu dadanya yang tebal. Menurunkan seluar hawaii yang dipakainya menyerlahkan balaknya yang besar dan mendongak.
Siva melangkah ke ruang tamu dengan lemah. Dia melilitkan tuala di binggangnya.
“Macam mana?” tanya Jaafar.
“Best gila isteri kau..best habis” jawab Siva sambil bersandar letih ke sofa.
“Emmmmm” terdengar suara Nor dari dalam bilik. Jaafar dan Siva sama-sama fahan yang Raja juga sedang menikmati tubuh Nor sekarang.
Dalam bilik Raja merendam balaknya dalam cipap Nor buat seketika. Mereka berkucupan. Nor seronok memeluk tubuh Raja yang berbulu. Pertama kali dalam hidupnya memeluk lelaki yang berbulu bukan sahaja di dada tetapi di belakang juga.
“Macam peluk gorela” komen Nor.
“Kenapa?” tanya Raja.
“Berbulu”
“Malam ni saya nak main anal boleh?” Tanya Raja.
“Kenapa” Tanya Nor.
“Saya geramkan bontot awak” Jawab Raja.
“Balak awak besar.. takut tak masuk”jawab Nor.
“Kasi taruk minyaklah..itu baby oil” cadang Raja
“Kita main ikut depan dululah” cadang Nor pula.
Ketika itu Nor terdengar suara anaknya menangis. Raja baru sahaja mula menghayun.
“Bang!”Nor memanggil suaminya.
“Ya..ya! abang uruskan”jawab suaminya di luar.
Raja terus menghayun dengan padu. Nor mengerang dan berdengus.
Kemudia Nor nampak Jaafar membawa masuk anak bongsunya Nazim di atas dokong. Nazim berumur hampir tiga tahun.
Nor yang memejam mata menikmati tujahan Raja membuka mata lalu senyum. “Abang kenapa bawa Nazim ke sini”
“Alah bukannya dia faham” jawab Jaafar.”Tengok Nazim mak tengah syok dijolok Uncle Raja”
“Tengok tu..dia fahamlah bang” Nor lihat anaknya senyum ke arahnya.
“Dah lah bang.tidurkan dia..lepas tu bawakkan baby oil ke sini bang” pinta Nor.
“Nak buat ape?’ Tanya Jaafar.
“Raja nak anal lah bang”jawab Nor
“Abang selalu anal tak pakai minyak pun” balas Jaafar.
“Abang tengoklah dia punya tu.koyak anal Nor nanti”
Jaafar tergelak “Kau jangan bagi koyak Nor tau Raja!”
“Aku tahulah..aku jagalah sama dia” jawab Raja.
Raja mula mempercepatkan sedikit hayunannya. Nor menahan dengan lebih aktif lagi.
“I nak klimeks Raja” jelas Nor. Raja merodok dengan laju lagi. Nor menggigit bibir.
“I klimeks Ahh! Aghhhh! Emmpppph!Ohhhhh!!!!!!” Suara Nor nyaring.
Raja membiarkan Nor berehat seketika dengan merendam balaknya di dalam cipap Nor yang berair. Kemudian dia mencabut balaknya dan meminta Nor menonggeng. Dengan tubuh yang masih lemah, Nor mengubah kedudukannya menonggeng memberikan ponggongnya kepada Raja.
Raja sekali lagi menolak balaknya ke dalam cipap Nor dan menghenjut perlahan-lahan dari belakang.
“Ahhh. emmm” keluh Nor.
Raja mula menghentak cipap Nor dari belakang. Ponggong gebu Nor bergetar setiap kali di hentak oleh tubuh Raja dan setiap kali itu jugalah Nor mengerang dan mengeluh. Buah dada Nor barayun ke depan dan ke belakang mengikut hentakan dan tarikan balak Raja. Kedua-dua tangan Raja mencekan kemas pinggang Nor yang agak ramping berbanding ponggongnya yang bulat.
Dalam asyik Raja mengerjakan cipap Nor Jaafar datang dengan botol baby oilnya. Dia menghampiri Nor lalu menitiskan baby oil pada lobang bontot Nor. Nor menoleh ke belakang melihat perlakuan suaminya.
“Raja kau cuba sekarang” pinta Jaafar. Raja mencabut balak besarnya lalu menekan ke bontot Nor yang telah berminyak.
Nor menggigit bibir. “Oh! Emmmph! “ Tangan Nor memegang lengan suaminya yang berada disebelahnya.
“Uhh! Ketat gila” ujar Raja
“Ughhh!!! Perlahan duluuuu..ahhhh..jangan tekan dalammmm sangat.. Perlahannn Raja.slow dulu” Nor cuba relekskan bontotnya bagi membolehkan Raja terus meneroka untuk lebih dalam lagi.
Raja menarik semula dan menekan kembali dengan perlahan sehingga bulu ari-arinya bersentuhan dengan bontok gebu Nor.
“Dah habis?” tanya Nor.
Raja menganggukkan kepala.
Nor mengemut beberapa kali bontotnya mencerut balak besar Raja.
“Ohhhh sedapnya” Raja mengeluh.
“Ummmm besarnya.” keluh Nor pula
Raja mula menghayun semula.Nor bermain dengan kelentiknya. Buah dadanya berayun mengikut hentakan Raja.
“Par , Nor punya bontot kemut baik punya, aku rasa macam nak putus”
“Engkau balunlah Raja masa ada peluang ni. Bukan selalu kau dapat bontot Nor tu”
Nor berpaling ke belakang melihat Raja yang sedang menghenjut bontotnya. “You memang kaki bontot ke?” tanya Nor.
“Taraklah Nor, sekali sekala saja.tapi Nor punya saya banyak geram juga” Jawab Raja
“Wah Raja kau dapat bontot Nor?” Nor berpaling ke belakang lagi, dilihatnya Siva berdiri di sisi Raja. Siva juga sudah bogel tanpa seurat benang.
“Kenapa Siva nak juga ke?” tanya Nor
“Kalau Nor kasi, saya mesti mahu punya” Jawab Siva sambil membelai balaknnya yang panjang yang kian mengeras.
“Boleh ke Nor?” tanya Siva lagi.
“Lain kalilah..malam ni Nor bagi Raja saja..tak laratlah Nor” jawab Nor
“Habis ni..macam mana?” Nor menoleh ke arah Siva yang menunjukkan balaknya yang dah keras mencanak.
Nor melihat pada suaminya yang duduk di sisinya yang juga sedang membelai balaknya.
“Teruklah Nor macam ni bang”
Jaafar tersenyum sambil mengucup bibir isterinya.
Nor menolak Raja untuk keluarkan balak dari anusnya. “Raja stop kejap”
Nor duduk seketika lalu menarik balak Siva. Dirocoh beberapa kali “Siva baring”pinta Nor.
Siva merangkak ke tengah katil lalu berbaring terlentang. Nor naik ke atas tubuhnya lalu memasukkan balak Siva yang keras tu ke dalam cipapnya.
“Ohhh!” keluh Siva.
“Raja..apalagi” Arah Nor
Raja faham, dia menolak tubuh Nor ke depan supaya bontotnya Nor terbuka dan menonggeng sedikit. Ketika itu dia dapat melihat dengan jelas balak Siva yang ternggelang dalam cipap Nor yang basah licin. Dia terus menekakan balaknya yang besar itu ke lobang bontot Nor yang terkemut-kemut menanti.
“Ahhhhhh!” keluh Nor. Nikmatnya tidak terkata lagi. Mereka bertiga mula berjuang ke puncak nikmat dengan simfoni suara silih beganti.
Jaafar duduk saja di kepala katil sambil melacap. Dia seronok melihat wajah ayu isterinya dalam keadaan kenikmatan begitu. Dia lihat dahi dan hidung berpeluh, begitu juga dilehernya meleleh peluh menitis turun ke dadanya.
Sekali dia bertanya “Sedap sayang?”
“Sedap gila bang.ohhhhhh sedap nyaaaaaaaaa.ohhhhh besttttt” jawab Nor
Tiba-tiba Niza tersedar dari tidurnya apabila mendengar emaknya menjerit. Dia bangun dan berjalan keluar ke arah bilik tidur emaknya. Dari pintu yang tidak tertutup rapat dia dapat melihat abahnya duduk di katil sedang bermain dengan punainya sendiri sedangkan emaknya berada di antara dua orang rakan abahnya terhenjut-henjut. Dia dapat melihat punai rakan abah sedang tenggelam timbul dalam fefet dan bontot emaknya. Kesemua mereka tidak berbaju. Mereka berbogel saja.
Lama Niza berdiri kemudian di berjalan masuk mendapatkan abahnya. Masa tu emaknya sedang tunduk keleher rakan abahnya dibawahnya.
Jaafar sedar kedatangan anak sulungnya itu. Dia melambaikan tangan supaya menghampirinya.
“Emak buat apa tu bah?” tanya Niza dengan suara yang perlahan.
Jaafar memeluk tubuh Niza sambil mencium kepala anaknya.
“Emak sedang main kuda” jawab Jaafar menyebabkan Nor mengangkat kepalanya.
Nor terkejut melihat anaknya berdiri di depannya melihat dia disetubuhi oleh orang lain, malahan bukan itu sahaja dia disetubuhi oleh dua orang serentak pulak tu.
Niza melihat muka emaknya merah dan berpeluh-peluh “Sakit ke mak main kuda?” tanya Niza.
“Abangggg...Tak Za tak sakit tapi sedap sangat” Nor cuba kawal dirinya.”Abang bawaklah Niza pergi tidur”
“Ala biarlah dia tengok, apa salahnya” Jawab Jaafar.
“Tak eloklah bang..Niza pergi tudur ye sayang”
“Kenapa Niza tak boleh tengok ke mak” tanya Niza lagi.
“Tak elok lah sayang..ini permainan orang tua saja”
Raja dan Siva terus saja dengan tugas mereka malahan makin bersemangat pulak.
“Abang !!!! bawaklah Niza tidur..Ohhhh emmm!!!” Nor cuba nak kawal keghairahan klimeksnya tapi jolokan Raja dan Siva terlalu nikmat untuk dinafikan sehingga dia mencapai klimeks untuk sekian kalinya “Ahhhhhh!!!!!!!!”sambil menyembamkan mukanya ke bantal sebelah kepala Siva.Badan Nor terhinggut-hinggut menahan nikmat, pahanya bergetar.Siva dapat merasakan kehangatan klimeks Nor membasahi balaknya yang ditunjahnya sedalam mungkin dalam cipap yang mengemut-ngemut bagai meramas balaknya.
Jaafar mendokong anaknya ke bilik sebelah. Mata Niza masih memerhati kearah maknya yang masih lagi bermain kuda.
“Abang juga kena tidur macam adik” Bisik Jaafar kepada Niza.
“Kenapa abang tak boleh tengok mak main kuda?” tanya Niza
“Itu ..orang tua saja main..nanti Niza dah dewasa Niza pun boleh main kuda macam tu..tapi sekarang Niza kena tidur dulu”
Jaafar menidurkan Niza.
Dibilik tidur utama Siva dan Raja kian rancak menjolok kedua-dua lubang Nor. “Dei Raja kasi aku rasa itu bontot jugalah” Pinta Siva.
‘Chit kau ni.aku sudah dekat mau pancut juga”
Nor menoleh ke belakang “ Sudah lah Raja bagi dia rasa sama” sambil tangannya menolak Raja.
Raja mengalah lalu mencabut balaknya dari lobang bontot Nor. Dengan lemah Nor juga mencabut balak Siva yang basah berlendir dari cipapnya. Siva masih lagi terlentang. Nor berpusing mengadap ke kaki Siva lalu duduk perlahan-lahan menghalakan balak Siva yang panjang ke bontotnya.
“Ahh!!!” Keluh Nor lalu terlentang di atas dada Siva. Siva menggerakkan ponggongnya ke atas supaya balaknya dapat meneroka bontot Nor dengan lebih dalam lagi.
Raja membuka kangkang Nor. Dia dapat melihat dengan jelas balak hitam Siva tenggelam dalam bontot Nor yang kelihatan terkemut-kemut mengemut balak Siva.
“Best gila ini bontot, macam mahu putus aku punya batang” Komen Siva.
Ketika Raja mahu memasukkan balaknya ke cipap, Nor menahannya “Pergi basuh dulu” pinta Nor.
Raja berdengus lalu turun dari katil menuju ke bilik air. Tak lama lepas itu Raja naik semula ke katil mula menghalakan balaknya yang besar ke cipap Nor.
“Ahhhhh Raja emmmm sedapnya”Keluh Nor.
Jaafar masuk semula ke bilik tidurnya selepas anaknya lena semula. Ketika itu dia sempat melihat rakan-rakannya mengganas menjolok lobang isterinya dengan suara isterinya mengerang dengan nada yang semakin meninggi.
Katika itu Jaafar nampak dengan jelas kedua-dua balak hitam yang menyetubuhi isterinya tenggelam habis dalam cipap dan bontotnya.
Selang beberapa ketika isterinya terlentang terkulai di atas dada Siva. Tangan Siva masih lagi meramas-ramas buah dada Nor. Air maninya meleleh keluar dari cipap Nor yang masih lagi sedikit ternganga.
Raja mencabut balaknya lalu terlentang di sisi Siva. Balaknya yang besar melentok di atas pahanya.berlendir dengan air maninya bercampur dengan air cipap Nor.
Perlahan-lahan Nor bangun mencabut balak Siva dari duburnya kemudian dia turun dari katil dan terus kebilik air dengan langkah yang longlai.
“best gila” hujah Siva.
“I agree with you my man..I agree with you” tambah Raja. Jaafar tersengeh melihat kawan-kawannya yang keletihan memuji kehebatan isterinya.
Apabila Nor keluar dari bilik air di dapati tiada siapa berada di dalam bilik tidurnya. Hidungnya cepat tercium bau air mani dari atas katilnya. Dia tak ambil pusing tentang itu. Dai menyikat rambutnya dan mengenakan baju kelawar tanpa mengenakan pakaian dalam lagi.
“awak semua nak kopi?” tanya Nor kepada tiga lelaki yang sedang lepak di atas sofa. Ketiga-tiga mereka masih berbogel.
“Abang dah panaskan airnya tu” jelas Jaafar.
Selepas menghidangkan kopi panas Nor duduk di sebelah Jaafar.
“Apa macam Nor best tak tadi?” tanya Raja. Nor melihat balak kulup Raja berjuntai masih lagi kelihatan agak besar.
“Best tu bestlah tapi letih lah Nor” jawab Nor sambil menghidup kopi. “Raja rasa best tak?”
“Best tapi tak dapat pancut dalam Nor punya ass”jawab Raja.
“Raja ni kaki bontot betul” jawab Nor tangannya membelai balak suaminya.
“Ye lah asyik Siva saja yang dapat” jawab Raja sambil minum kopi.
Siva bersandar keletihan “ Ala jangan cakap itu macamlah bro.itu sudah rezki.betul tak Nor”
Nor dan Jaafar tersengeh saja.
“Jom lah bang kita tidur, layan dia orang berdua ni bila nak habis” Nor menarik suaminya ke bilik tidur.
Jaafar tidak menggangu Nor malam tu. Mereka tidur dengan nyenyak sampai pagi.
Semasa sarapan Raja masih lagi mengenakan Nor “Nor macam mana kalau pagi ni?”
“Apa pagi ni?” tanya Nor sambil menyuapkan makanan ke mulut Nazim.
“Aala malam tadi punya hal lah .asyik Siva saja dapat”
“Dia nak bontot sayanglah tu” Jelas Jaafar.
“Eh Raja ni..tak habis lagi.ingatkan dah selesai, kan malam tadi dah dapat rasa” jawab Nor
“Rasa saja..tak pancut itu dalam punya”
“Tak mau lah Nor” jawab Nor sambil menyuap mee goreng ke mulutnya.
“Ala Nor bagi sajalah, nanti Raja kumpunan dalam perjalanan nak balik pagi ni” saran Jaafar.
“Ish abang ni.teruk Nor tau”
Raja bangun lalu menghampiri Nor “Sekijap saja Nor”
Nor merenung ke arah Raja dan berpaling ke arah Jaafar. Jaafar menganggukkan kepalanya memberikan dorongan.
“Sekejap je tau” Nor bagaikan memberikan amaran kepada Raja.
“Yalah sikijap saja” Tangan Raja mula memimpin tangan Nor.
“Abang tengok Nazim tu” pesannya kepada Jaafar.
“Mak nak ke mana?” tanya Niza
“Mak ada hal dengan uncle dalam bilik.errr nak baiki paip tersumbat” Jawab Nor pada Niza. “Niza terus makan ye”
Nor terus sahaja kunci bilik tidurnya takut anak-anaknya masuk mengganggu kerjanya dengan Raja.
Raja meramas-ramas ponggong Nor. Nor berpaling, dilihatnya Raja sudah pun tidak berseluar lagi.”Cepatnya.gian sangat ke?” tanya Nor.
“Takut Nor ubah pikiran” jawabnya sambil merocoh balaknya sendiri menjadi lebih keras.
Nor melurutkan seluar jeans yang dipakainya dan membiarkan T-shirt pendeknya. Lalu melangkah ke katil. Dia mengambil kedudukan menonggeng. Raja datang dari belakang lalu menyuakan kepala balaknya ke mula cipap Nor. Sekejap saja cipapnya menjadi basah lalu Raja menekan ke dalam cipap yang menanti.

“Ohhhh Rajaaaa” Nor menoleh ke belakang. Raja menghayun dengan tempo yang pelahan. Selepas lima minit menghayun Raja berhenti lalu mencabut balaknya dan menyuakan ke lobang anus. Nor menghulurkan botol baby Johnson.
Raja melumurkan minyak pada batang balaknya dan mencurahkan sedikit pada mulut anus Nor. Raja lalu menekan balaknya ke lobang anus Nor.
“Aghhh!!! Uuuuughhh! Perlahan duluuuuuu!!!!” keluh Nor apabila lubang anusnya dirasai mula di trokai oleh balak Raja.
“Ahhhh!!! Ahh!! Ahhhh!” terdengar suara Nor sampai ke telinga mereka yang berada di meja makan.
“Aku rasa paip aku pun nak tersumbat juga ni” kata Siva pada Jaafar.
Jaafar senyum saja. “Paip kau tu memang selalu tersumbat”
“Paip tersumbat tu apa abah?” tanya Niza.
“Itu paip bilik air.tu air dia payah nak keluar..kena baiki” Jawab Jaafar.
Nor menggigit bibirnya menahan tunjahan Raja yang kian laju.sebelah tangannya bermain dengan kelentitnya dari bawah bagi menambah kenikmatan dirinya. Dia ingin klimeks.
“Siapa nak tonton ipin dan upin?” tanya Jaafar pada anak-anaknya.
“Niza nak!” jerit Niza.Nazim cuma melompat-lompat menyokong abangnya
“Aghhhhh!!!!!!!”jerit Nor dalam bilik. Raja memancutkan maninya dalam dubur Nor melepaskan hajatnya yang dipendamkan sejak malam tadi lagi diringai dengan keluhan “Ahhhhh!!!!” yang kuat.
Jaafar duduk bersandar sambil meletakkan Nazim disebelah abangnya. Pintu bilik terbuka. Tersembul Raja sambil mengemaskan tali pinggang seluarnya.
“Par..aku pulak?”Tanya Siva.
Jaafar cuma memberi ok dengan menggerakkan kepalanya saja.
Raja duduk keletihan disebelah Jaafar.Mukanya masih berpeluh.
“Apa macam? Dah OK ke paip kau?”Tanya Jaafar.
“Best gila” jawab Raja.
Pintu bilik tertutup dan beberapa ketika terengar suara Nor mengeluh “Ohhhh !!!!emmmmmph!”
Jaafar melihat jam tangannya.
Siva menghayun balaknya dengan laju. Nor mengepit kakinya ke pinggang Siva.
“Oooooooohhhhhh!!!!!! Siva I’mmmmmm cummmmmingg!!!!!!” Jerit Nor.
“Yeahhhhh!!!!I’m cummingggggg tooooooo!!!!!”Keluh Siva.
“Augh!Augh!!” keluh Nor menerima pancutan Siva yang berdecut-decut jauh ke dalam rahimnya.
Siva tertiarap atas tubuh Nor. Perlahan-lahan Nor menjatuhkan kakinya ke sisi.Siva membiarkan balak panjangnya terendam dalam cipap Nor buat beberapa ketika sambil menarik nafas panjang-panjang.
Sambil bertongkat siku, Siva turun dari tubuh Nor sambil sebelah tangannya membelai buah dada Nor yang mekar.T shirt yang dipakai Nor tadi memang dah tercampak entak kemana.
“Thank you Nor.That was the best”Puji Siva sambil mengucup bibir Nor.
Tangan Nor menjalar mencari balak Siva yang masih lagi panjang walau pun lembik.
“You punya panjang” Ulas Nor.
“Bila I boleh rasa you lagi?”Tanya Siva.
“Bila-bila you drop by, dengan izin Jaafar, I akan kangkang untuk you”sambil Nor mencuit hidung Siva yang mancung.
Pintu bilik terbuka Siva keluar dengan senyum manis walau pun keletihan.
“Alo kawan aku ingat kau tak nak balik” perli Raja. Dia dah bersedia dengan beg pakaiannyanya dan beg kepunyaan Siva.
Jaafar bersegera masuk ke bilik untuk bertukar pakaian sebab hendak menghantar Raja dan Siva ke lapangan terbang.
Ketika dia masuk Nor masih lagi terkangkang. Air mani kelihatan melekit di cipapnya dan di bontotnya. Perlahan-lahan Nor bangun mencapai sarung lalu berkembang.
“Sayang tak nak hantar dia orang ke airport?”Tanya Jaafar.
“Tak laratlah bang, badan pun rasa melekit, Nor kena mandi, abang sajalah yang pergi”
Nor keluar bilik setelah membetulkan rambutnya dan menyarungkan Tshirt yang dipakainya tadi tanpa bra dan penties. Dilihat anak-anaknya masih lagi asyik menonton.
Tergesa-gesa Jaafar keluar “Jom” kata Jaafar kepada dua kawannya.
Nor menghantar mereka ke pintu.
Raja memeluk Nor “Thank you, your butt is the greatest” sambil tangannya meramas ponggong Nor.
“Your sperm is still hot inside there” jawab Nor.
Siva juga memeluk Nor ”terima kasih Nor”
“Take care, Nor akan kangkang untuk you bila-bila masa” bisik Nor.
“Nazim, Niza.mari salam uncle, uncle dah nak balik” ajak Nor.
Budak-budak tu berlari ke arah Raja dan Siva.
“Uncle dah baiki paip ke” Tanya Niza pada Raja
“Dah.air dah keluar dah” jawab Raja sambil mendokong Niza.
Niza memegang tangan Siva” Nanti uncle datang lagi ke main kuda dengan mak?”
“Kalau uncle ada masa uncle datang, OK” jawab Siva.Muka Nor tiba-tiba menjadi merah.
“Dah uncle nak pergi tu, bye bye pada uncle” Nor mengambil Niza dari dokongan Raja.Sekali lagi Raja meramas bontot Nor.
“bye bye uncle” sambil melambai tangan masing-masing.
Kereta Jaafar berderu menghilang dari pandangan. Nor mengunci pintu. Nazim dan Niza meneruskan menonton. Nor menikmati air panas mandi membersihkan rasa melekit pada tubuhnya khususnya di antara dua pahanya.
Dia masih lagi ghairah walau pun dalam sehari dua ni dia telah mendapat lebih daripada sepatutnya dapat dari lelaki.Kalau boleh dia nak lagi...
Share: