Urutan Batin

Setelah perkawinan kami memasuki tahun kelima, aku dan isteriku Thalha mengalami hubungan suami isteri yang makin hari makin hampa, kerana kesibukan mengurus dua anak kami yang masing-masing berumur 2 dan 3 tahun. Thalha malas sekali jika diajak berhubungan suami isteri, alasannya terlalu penat bekerja sebagai ibu rumah tangga dan mengurus anak. Aku yakin Thalha bukan jenis isteri yang suka selingkuh, selain taat beragama, norma-norma moral dan kesusilaan sangat dijaga benar oleh isteriku, ini kerana isteriku berasal dari keluarga baik-baik.

Aku berusaha mencari maklumat bagaimana memulihkan hubungan kami supaya normal kembali. Jika kupaksakan berhubungan, Thalha berteriak kesakitan, meskipun sudah dengan pemanasan (four play) yang lama. Thalha tidak terangsang sama sekali dan lubang kemaluannya tetap kering, dan jika dipaksakan masuk, dia akan menjerit kesakitan. Aku berusaha mencari alternatif untuk penyembuhan kedinginan isteriku ini. Sudah berbagai cara digunakan tapi belum berhasil.

Thalha berumur 22 tahun dan aku 31 tahun, pada awalnya perkawinan kami boleh dikatakan cukup bahagia, namun sekarang kerana Thalha mengalami kedinginan seks yang nampaknya kekal, membuatku bingung mencari penyelesaiannya.

Sebelum kulanjutkan, aku ingin menceritakan tentang Thalha, yang kukahwini 5 tahun yang lalu, untuk ukuran orang melayu dia termasuk wanita yang cukup tinggi dengan tinggi 170 cm dengan berat 49 kg. Kulitnya kuning langsat, rambut sebahu, memiliki leher yang jenjang.

Apa yang ku suka dari Thalha adalah kakinya yang panjang dan jinjang, serta bibirnya yang tebal dan mengghairahkan, buah dadanya tidak terlalu besar namun bentuknya indah mancung ke atas. Yang membuatku penasaran adalah puting teteknya yang besar, hampir sebesar ujung kelingking, itu yang membuatku senantiasa gemas dan ingin selalu menghisapnya.

Kembali ke masalah tadi. Setelah mendapat maklumat dari seorang rakan, dia mengatakan bahwa di daerah Baling ada seorang dukun orang asli yang dapat menyembuhkan segala penyakit termasuk penyakit dingin seks seperti isteriku ini. Nama aslinya orang kampung tak ingat, tapi semua orang memanggilnya Pak Ali. Sebenarnya isteriku ragu-ragu untuk berubat ke dukun itu, namun atas desakanku tidak ada salahnya dicuba.

Kami terus saja ke tempat yang diberitahu. Sambil menunggu, aku mengamati pengunjung sebelumnya, ternyata rawatan dukun tersebut adalah dengan cara mengurut menggunakan minyak (seperti minyak kelapa) yang dibuatnya sendiri. Setiap pesakit perempuan harus melucut seluruh bajunya, coli dan tinggal celana dalam, dan mengenakan sarung yang disediakan.
Aku sempat mengamati kamar kerjanya yang serupa dengan kamar tidur itu pada saat pintunya terbuka. Beberapa wanita sedang menanggalkan coli dan memakai sarung. Begitu Thalha tahu tentang itu, dia hampir saja membatalkan niatnya untuk berubat kerana risau harus buka pakaian, apalagi harus melondeh coli.

Jarum jam sudah menunjukkan pukul 8.30 malam, kemudian giliran kami dipanggil ke dalam. Aku pun disuruh masuk oleh pembantunya. Orang itu meperkenalkan namanya, kemudian menanyakan masalah penyakit isteriku, dia pun mengangguk-angguk mengerti dengan syarat seluruh rawatan harus diikuti dengan serius tanpa ragu-ragu. Kami pun mengiyakan, asal isteriku dapat sembuh.
Kemudian Pak Ali menyuruh Thalha menanggalkan pakaiannya, begitu Thalha membuka colinya, kulihat ekor mata Pak Ali agak terkejut melihat buah dada Thalha yang putih dan mancung ke atas, serta putting susunya yang cukup besar itu.

Setelah sarung dililitkan di tubuh Thalha yang hanya tinggal mengenakan celana dalam, kemudian Thalha disuruh tidur telentang di tilam yang sudah disediakan. Aku melihat Pak Ali mulai meminyaki rambut dan kepala Thalha dengan minyak, kemudian Thalha disuruh duduk, serta merta lilitan sarung yang dipakai Thalha terlepas. Kemudian dari arah belakang Pak Ali meminyaki belakang Thalha.
Posisi Pak Ali duduk menghadap belakang Thalha. Dari arah belakang kedua tangannya mulai meminyaki tetek Thalha yang kiri dan kanan, seluruh permukaan tetek Thalha diminyaki, dan kemudian aku melihat Pak Ali melakukan urutan-urutan yang menurutku sepertinya urutan erotik.
Aku juga melihat tangan Pak Ali meminyaki puting susu Thalha, tangannya yang hitam dan telapak tangannya yang besar dan kasar itu meminyaki puting susu Thalha. Dan aku terkejut ketika aku melihat jari-jari Pak Ali yang besar itu juga memutar-mutar puting susu Thalha yang besar itu. Anehnya aku melihat Thalha diam saja, tidak memberikan perlawanan. Sungguh aku hairan, dengan aku saja suaminya dia amat tidak suka puting susunya kupegang-pegang tapi dengan Pak Ali dia diam saja.

Puting susu Thalha yang sememangnya sudah besar itu semakin besar dan keras terlihat semakin kencang dan menegak kerana terus dipicit, dielus dan ditekan-tekan oleh jari-jari Pak Ali, yang kiri dan kanan.

Aku semakin mengamati bahwa urutan Pak Ali tidak lagi mengurut, tapi justru meramas-ramas kedua tetek Thalha. Aku bertanya-tanya dalam hati, kenapa dia tidak mengurut bagian tubuhnya yang lain tapi justru hanya kedua tetek Thalha saja. Kuperhatikan kedua puting susu Thalha semakin besar dan mengacung keras. Sungguh kontras menyaksikan kedua telapak tangan Pak Ali yang hitam dan besar dengan tetek Thalha yang putih yang diramas-ramas oleh tangan yang kasar.

Aku semakin hairan, apakah ini rawatan untuk menghilangkan dingin seks Thalha? Dan yang lebih aneh, buah dada Thalha nampak makin keras dan mengencang seiring dengan puting susunya yang juga mengencang. Apalagi Thalha diam saja diperlakukan demikian, kerana benar-benar kusaksikan Pak Ali bukan mengurut, tapi meramas-ramas buah dada Thalha sesukanya, dan itu dilakukan cukup lama.

Segala macam bentuk pertanyaan timbul dalam hatiku, bayangkan buah dada Thalha diramas-ramas oleh Pak Ali di hadapan mata kepalaku sendiri, dan aku mendiamkannya. Dan yang lebih aneh lagi sarung yang masih melilit di pinggang Thalha diturunkan ke bawah oleh Pak Ali, tentu saja paha Thalha yang putih panjang dan mulus langsung terpampang.

Lalu dia berkata kepada isteriku, "Cik Thalha, tolong buka celana dalamnya, Pak Ali mau periksa sebentar..!"

Anehnya entah kerana kena pukau, Thalha menurut membuka celana dalamnya tanpa membantah sedikit pun. Tentu saja aku terkejut dan lidahku kelu. Jantungku berdegup dengan kencang. Pak Ali menyuruh membuka celana dalam Thalha. Dan yang membuat jantungku lebih berdegup dengan kencang, kenapa Thalha tidak keberatan atas permintaan Pak Ali?

Setelah Thalha melepaskan celana dalamnya, aku melihat sendiri mata Pak Ali terbelalak melihat kemaluan Thalha, yang bersih tanpa rambut sedikit pun. (Memang bulu kemaluan Thalha selalu dicukur, agar nampak bersih) Dan memang aku mengakui kemaluan Thalha termasuk indah seperti kemaluan anak gadis umur 14 tahun, dengan kedua bibir kemaluan yang tertutup rapat.
Jantungku semakin berdegup kencang ketika Pak Ali menyuruh Thalha berbaring dan sekaligus melebarkan pahanya ke kiri dan ke kanan yang secara otomatik kemaluan Thalha terpampang tanpa ada yang menutupi sama sekali.

Lalu Pak Ali berkata, "Cik Thalha, Pak Ali mau periksa lebih dalam.., cik Thalha tenang-tenang saja, yang penting penyakit cik boleh sembuh sembuh." Lalu Thalha pun mengangguk tanda setuju.
Dan tanpa kusadari, batang kemaluanku sudah tegang luar biasa, apalagi ketika jari-jari Pak Ali yang berbuku-buku besar itu mulai membelai-belai kemaluan Thalha. Dia mulai membelai bibir kemaluan Thalha seraya melumuri dengan minyak. Jari-jari Pak Ali, yang besar dan berlumuran minyak itu mulai mempermainkan kemaluan Thalha. Aku melihat jari telunjuk Pak Ali menyentuh kelentit Thalha. Jari tengahnya mulai masuk perlahan-lahan meneroka ke dalam kemaluan Thalha.
Aku hampir tidak percaya pada pendengaranku, aku mendengar Thalha mengerang kecil dan mendesah-desah tertahan, seperti orang yang sedang menahan suatu kenikmatan orgasme (sebenarnya aku senang mengetahui bahwa sebenarnya Thalha tidak frigid). Aku melihat mata Thalha begitu redup, seperti orang keenakan. Pak Ali tidak hentinya terus mulai memundur-majukan jari tengahnya ke dalam liang kemaluan Thalha. Jari tengah Pak Ali yang besar dan hitam itu masuk dengan lancarnya ke dalam kemaluan Thalha. Nampaknya minyak pelincir di dalam kemalaun Thalha sudah keluar.

Aku terkejut paha Thalha semakin dibuka lebar, dan tanpa disadarinya Thalha mulai menggoyangkan punggungnya. "Oh.. ah.. oh.., eh.., eh.., eh..!" desahnya.
Thalha kemudian mengangkat punggungnya tinggi-tinggi, sudah dipastikan Thalha terangsang luar biasa oleh permaianan Pak Ali.

Aku melihat Thalha benar-benar menikmati apa yang dilakukan oleh Pak Ali pada dirinya. Jari-jari Pak Ali yang berada di dalam liang kemaluan Thalha membuat tubuh Thalha yang telanjang bulat itu mengelinjang-gelinjang tidak keruan sambil tangannya mencengkam tilam serta mengangkat punggungnya dan pantatnya, kemudian menggoyangkannya ke kiri dan ke kanan. Jari tengah Pak Ali yang besar dan kasar itu terbenam dalam sekali di dalam lubang kemaluan Thalha. Aku juga melihat ibu jarinya mengosok-gosok klitorisThalha. Sungguh pandai sekali Pak Ali membangkitkan nafsu Thalha.

Aku melihat mata Thalha menandakan keenakan, dimana biji matanya yang hitam tidak nampak, sementara jari-jari Pak Ali terus bergerak mundur maju di antara bibir vagina Thalha, dan makin lama jari-jari Pak Ali makin jauh terbenam di dalam vagina Thalha. Lalu yang membuat jantungku berdegup kencang, Pak Ali memutar-mutar jarinya yang sedang berada di dalam kemaluan Thalha, diputar ke kiri dan ke kanan, sungguh pandai dia menjolok-jolok kemaluan Thalha.
Klitoris Thalha juga menjadi perhatian penuh Pak Ali, ibu jari Pak Ali yang besar dan kasar permukaanya itu terus mengosok-gosok klitoris Thalha. Semakin lama nampak klitoris Thalha membesar dan menonjol kepermukaan, sungguh pemandangan yang luar biasa. Digosok dan dimainkan sedemikian rupa, klitoris Thalha semakin besar sebesar biji kacang tanah, dan Thalha pun mengerang tidak keruan menahan kenikmatan yang didapat dari Pak Ali.

Aku pun semakin tercengang, kerana Pak Ali mulai memasukkan tambahan jarinya, yaitu jari telunjuknya yang berbuku-buku besar itu ke dalam kemaluan Thalha. Bersama jari tengah dan telunjuknya yang besar itu, Pak Ali semakin menggila meneroka kemaluan Thalha serta sering memutar-mutar jarinya di dalam.

Tidak dapat dibayangkan selama ini, aku saja suaminya tidak pernah melakukan apa yang seperti Pak Ali lakukan. Jangankan memasukkan jari ke dalam kemaluannya, menggosoknya dari luar pun Thalha tidak mau, alasan Thalha tidak bersih. Susah dibayangkan, bagaimana rasa nikmatnya Pak Ali ketika jarinya masuk ke dalam kemalauan Thalha yang kecil dan tertutup rapat itu dijolok oleh kedua jari Pak Ali yang besar-besar itu.

Apalagi tangan kiri Pak Ali yang bebas mulai menggapai tetekThalha dan mulai meramas-ramasnya bergantian yang kiri dan kanan serta memelintir-melintir puting susu Thalha bergantian. Aku melihat puting susu Thalha yang sebesar ujung kelingking itu membesar dan mengacung ke atas kerana diperlakukan demikian.

"Ahhh..!" suara desahan Thalha makin kuat terdengar (sebenarnya Thalha paling malu mengerang-ngerang keenakan seperti ini, biasanya dia tahan, tidak mengeluarkan suara) tapi dengan Pak Ali dia benar-benar tidak tahan. Sungguh aku hairan, dengan Pak Ali lain jadinya. Kalau aku suaminya yang melakukan dia tidak mau, jangankan memasukkan jari ke dalam lubang kemaluannya, meramas-ramas buah dadanya saja Thalha tidak mau, ngilu katanya. Dengan Pak Ali dia merelakan kedua teteknya diramas-ramas, dan membiarkan Pak Ali mempermainkan puting susunya (yang menurut dia sangat geli dan sensitif). Dan yang membuatku tidak habis berpikir dan membuat birahiku semakin naik, kenapa dia membiarkan jari-jari Pak Ali masuk ke dalam lubang kemaluannya, sedangkan aku ditolaknya dengan tegas jika ingin mempermainkan kemaluannya.

Tapi aku tidak dapat berpikir lama lagi, kerana aku sedang menyaksikan pemandangan yang sangat luar biasa, dimana Thalha sedang menikmati perbuatan Pak Ali. Jari-jari Pak Ali semakin dalam terbenam dan semakin cepat maju mundurnya.

Dan, tiba-tiba aku melihat kedua paha Thalha menjepit kencang tangan Pak Ali yang berada di selangkangan Thalha. Kedua tangan Thalha menarik tangan Pak Ali sambil berusaha menekan punggungnya ke depan serta menarik tangan Pak Ali dan berusaha menekan jari-jari Pak Ali untuk lebih jauh masuk ke dalam vaginanya.

Thalha merintih histeria tidak tertahan, "Ahh.., ahh.., ahh.., ahhh..!"

Rupanya Thalha telah mencapai orgasme dengan sempurnanya. Pak Ali dapat merasakan cairan Thalha telah keluar dan meleleh ke bibir kemaluannya. Dan aku juga melihat wajah Pak Ali sudah memburu penuh nafsu. Dengan perlahan dia membuka celana hitam labuhnya, kemudian membuka celana dalamnya, lalu tersembul lah batang kemaluan Pak Ali yang sudah membesar dan menegang itu, yang dikelilingi oleh urat-urat yang besar. Aku pun terpana kaku memandang batang kemaluan Pak Ali yang besar dan panjang itu. Jantungku berdegup dengan kencangnya.

Lalu Pak Ali menoleh kepadaku, "Encik, encik rela tidak sebagai suami, demi untuk kesembuhan isteri encik ini, isteri encik mesti saya suntik dengan ini," sambil menunjukkan batang kemaluannya yang besar itu, "Saya harus menyetubuhi isteri encik sekarang. Biar penyakitnya hilang."
Aku pun terdiam, pikiranku berkecamuk, tiba-tiba seperti suara halilintar yang memecahkan telingaku, Thalhaberkata, "Biar saja Pak Ali, saya mau, yang penting.. saya boleh sembuh."
Jantungku berdegup kencang, tapi tubuhku menjadi lemas mendengar perkataan Thalha tadi. Thalha rela disetubuhi oleh orang yang baru dikenal, bahkan dilakukan di depan suaminya, seingatku Dila adalah isteriku yang paling setia, alim dan tidak pernah macam-macam, tapi kenapa sekarang boleh jadi begini, apakah kena pukau, atau apa?

Aku tidak dapat berpikir lebih lama lagi, dengan perlahan dan pasti Pak Ali mengarahkan topi keledarya ke dalam kemaluan Thalha. Thalha pun juga cukup terkejut melihat topi keledar Pak Ali lebih besar dari batang kemaluannya. Dan sialnya, sepertinya Thalha tidak sabar menunggu batang kemaluan Pak Ali menghampiri kemaluannya. Tanpa rasa malu sedikit pun, Thalha menarik punggung Pak Ali dengan kedua belah tangannya untuk cepat merapat ke kelangkangnya.

Tapi ternyata Pak Ali sedar diameter kemaluannya yang hampir 3 cm itu memang terlalu besar untuk kemaluan Thalha yang kecil dan comel itu, (sebenarnya ada perasaan rendah diri dalam diriku, kerana batang kemaluanku jika dibandingkan dengan Pak Ali jauh lebih kecil). Perlahan Pak Ali mengosok-gosok topi keledarnya di permukaan kemaluan Thalha yang kecil dan mungil itu. Aku pun penasaran melihat pemandangan yang menakjubkan itu, apakah boleh masuk seluruh batang kemaluan Pak Ali ke dalam vagina Thalha..?

Aku melihat wajah ketidaksabaran Thalha kerana Pak Ali belum memasukkan seluruh batang kemaluannya ke dalam liang vaginanya. Nampak wajah protes dari Thalha dan Pak Ali mengerti. Perlahan dan pasti topi jerman Pak Ali sudah mulai terbenam masuk ke dalam kemaluan Thalha. Mata Thalha mendelik-delik ke belakang, merasakan kenikmatan yang luar biasa, dan membuat perasaan iri menjalar di tubuhku. Thalha memeluk tubuh Pak Ali dengan kencangnya, seolah tidak mau melepas batang kemaluan yang sudah masuk ke dalam vaginanya.

Thalha semakin membuka kedua pahanya lebar-lebar, ke kiri dan ke kanan, mempersilakan batang kemaluan Pak Ali masuk tanpa hambatan. Kini seluruh batang kemaluan Pak Ali sudah terbenam di dalam liang vagina Thalha. Pak Ali tidak langsung memainkan batang kemaluannya, dibiarkannya sesaat batang kemaluan itu terbenam, ini membuat Thalha makin gelisah. Dan sungguh di luar dugaan, Pak Ali berusaha mencium bibir Thalha yang mekar itu, aku menyaksikan bagaimana bibir Pak Ali yang hitam itu melumat bibir Thalha yang tebal dan mengghairah itu. Aku tahu sebenarnya Thalha tidak mau dicium oleh sembarang pria, tapi kerana desakan berahi yang meluap-luap, mau juga Thalha membalas ciuman Pak Ali dengan ganasnya. Kulihat mereka berpagutan, namun Thalha sudah tidak tahan.

Dia berkata, "Cepat Pak Ali, mulai..!"

Perlahan dan pasti Pak Ali mulai memaju-mundurkan batang kemaluannya di dalam vagina Thalha. Aku melihat disaat batang kemaluan Pak Ali menghujam ke dalam, bibir kemaluan Thalha pun ikut melesak ke dalam, dan disaat batang kemaluan tersebut ditarik keluar, bibir vagina Thalha pun ikut melesak keluar.

Hal ini dikeranakan batang kemaluan Pak Ali yang terlalu besar untuk ukuran vagina Thalha yang kecil dan mungil itu. Aku melihat wajah Thalha merah padam, menahan kenikmatan yang luar biasa. Matanya terpejam-pejam saat menerima tikaman batang kemaluan Pak Ali serta bibirnya mendesis-desis. Ternyata Thalha sangat menikmati persetubuhannya dengan Pak Ali, dikeranakan memiliki batang kemaluan yang besar dan panjang. Sementara aku melihat wajah Pak Ali, matanya pejam celik, menikmati liang vagina Thalha yang kecil dan mungil itu.

Tanpa ada rasa malu, di sela-sela rengekan nikmat yang keluar dari bibir Thalha, aku mendengar dia berkata, "Ahh... Ayuh.. Pak Ali, cepat lagi..!"

Rupanya Thalha sudah ingin mencapai orgasme. Thalha semakin cepat menggoyangkan punggungnya ke kiri dan ke kanan, dan mengangkat punggungnya tinggi-tinggi. Dan benar saja, Pak Ali semakin mempercepat permainannya, topi jerman dan batang kemaluan Pak Ali yang dikelilingi oleh urat-urat yang besar sekarang begitu mudahnya masuk keluar dari dalam liang kemaluan Thalha yang sempit itu.

Sukar dibayangkan, batang kemaluan Pak Ali yang demikin besar itu dapat menerobos masuk dan keluar dengan mudahnya, ini dikeranakan pastiThalha sudah mengeluarkan cairan pelincirnya begitu banyak. Tapi kerana teramat besarnya batang kemaluan Pak Ali, bibir kemaluan Thalha tetap melesak ke dalam atau ke luar ketika dibenam maupun ketika dicabut.

Ini merupakan pemandangan yang sangat menakjubkan, cepatnya batang kemaluan Pak Ali masuk dan keluar, diikuti dengan cepatnya bibir vaginaThalha melesak ke dalam dan keluar. Aku pun sudah tidak tahan untuk melakukan lancapan melihat Thalha disetubuhi oleh laki-laki yang belum dikenal dengan batang kemaluan yang luar biasa besarnya.

Pak Ali ternyata tidak mau rugi sama sekali, apabila diperbolehkan menyetubuhi isteri orang dalam rangka penyembuhan, mesti dimanfaatkan sebaik mungkin, tidak boleh ada bahagian tubuh yang ditinggalkan. Memang sungguh berlebihan, sempatnya Pak Ali melahap kedua buah dada Thalha yang terguncang-guncang terkena hentakan batang kemaluannya.

Dengan rakus disedut-sedutnya puting susu Thalha dengan kuatnya yang kiri dan kanan bergantian, sungguh Pak Ali menikmati puting susu Thalha yang sebesar ujung kelingking itu (seperti anak kecil isap puting). Pasti nikmat kerana terasa puting itu di mulut yang menghisapnya.

Kesan dari ini semua Thalha tidak tahan untuk berteriak-teriak menikmati kenikmatan yang amat sangat yang belum pernah dirasakan. Dan tiba-tiba aku melihat tubuh Thalha mengejang kaku dan bergetar seperti dialiri elektri ribuan volt. Tangan dan kakinya memeluk Pak Ali dengan kuat seperti melekat.

"Ahh.., ahh... Ahh..!" tangannya mencakar belakang Pak Ali hingga berdarah dan bibirnya mengigit lengan Pak Ali hingga berdarah pula. Punggung Thalha diangkat menempel di tubuh Pak Ali, seolah tidak dapat lepas, Thalha mengalami orgasme yang luar biasa hebatnya, yang seumur hidup belum pernah dirasakannya.

Sementara Pak Ali pun sudah tidak tahan, dia mempercepat kocokannya. Dan akhirnya ketika ingin memuntahkan laharnya, dia cepat mencabut batang kemaluannya yang besar dan berurat itu dan disodorkan segera ke wajah Thalha. Sperma putih melumuri wajah Thalha dan sebagian dari sperma itu harus ditelan oleh Thalha, sebagai salah satu syarat penyembuhan.

Setelah selesai, Pak Ali menyuruh Thalha mandi air bunga yang disediakannya dan memberikan beberapa ramuan kepadaku untuk diminum Thalha. Ketika hendak pulang, kutanyakan berapa bayaran untuk rawatan yang baru saja dilakukannya. Dikatakannya percuma, kerana sudah dibayar dengan tubuh Thalha.

Dia mengatakan aku merupakan lelaki yang beruntung mempunyai isteri yang lubang kemaluannya kecil dan rapat meskipun sudah beranak 2. Setelah kejadian di tempat Pak Ali, Thalha sudah mulai beransur-ansur sembuh dari keadaan dingin seksnya, dan terus menjalankan rawatan serta minum ramuan yang dibuat oleh Pak Ali.