Game Sexopoly Part 2


Birahi Randy semakin menggila, apalagi melihat pemandangan toket besar yang diremas-remas pemiliknya agar bisa menghimpit dan mengocok kontol Randy dengan maksimal. Randy tidak sadar bahwa Vani mulai menikmati perannya. “Mmmppff.. panas banget ni kontol di toket gue.. bikin tambah horny aja” batin si lonte mulai berperang. Akhirnya, Randy tidak tahan lagi untuk berperilaku anak baik. Kedua tangan Randy tiba-tiba meraup bongkahan melon putih Vani, lalu meremas dan menghimpitkannya lebih rapat lagi ke kontolnya. “Aehh.” pekik Vani kaget. “Ngapain sih lo Raaagghhhh.” kata-kata Vani terpotong erangannya ketika jemari Randy dengan ahlinya menarik dan memilin putingnya yang sensitif. Tanpa memperdulikan protes Vani, Randy semakin semangat meremas-remas toket Vani sambil berusaha mengocokkan kontolnya. Terdorong oleh bobot Randy, badan Vani jadi terlentang di karpet dan Randy mengangkang di atas Vani.
“Ahh.. Randy nakal” rengek Vani tanpa bisa berbuat apa-apa. Dengan buasnya Randy memaju-mundurkan pantatnya, mengocokkan kontolnya di sela-sela toket Vani yang dicengkram kuat oleh kelima jarinya. “Ajrit.. hohh..hoooh.. enak banget Van. tangan gue ga cukup.. ga cukup megang toket lo.. haahh.. hahh..” nafas Randy ngos-ngosan akibat desakan birahinya yang makin menggelora.
SLEP SLEP SLEP.. suara gesekan kontol Randy dan toket Vani ditingkahi ceracau kenikmatan Randy, menutupi suara desah dan erang tertahan Vani yang sesekali keluar dari sela-sela bibir sensualnya. Remasan dan rangsangan brutal di kedua toketnya yang untuk kedua kalinya ini ternyata mulai menjebol pertahanan Vani. “Ah.. ahh.. kok gue malah makin horny siihh. Aduhh.. mana memek ga mau diajak kerja sama, malah jadi makin gatel.. Huhuhu gue pengen dientot” runtuk Vani dalam hati. Maka, adegan yang tampaknya seperti Randy yang “memperkosa” toket Vani, sebenarnya kedua insan ini sama-sama menikmatinya.